Tag Archive: Catatan Harian


Hujan Bulan Juni

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono – 1989

Menara Jamsostek 24th, Jumat 27 Januari 2012 7:55

Image from: http://niewardhani.blogspot.com/2010/08/something-bout-love.html

Iklan

Renungan Akhir Pekan

الحكام

ما أحببت شيأ إلا كنت له عبدا و هو لا يحب أن تكون لغيره عبد

Tidaklah engkau mencintai sesuatu, melainkan engkau menjadi hambanya. Sedangkan Dia (Allah) tidak menyukai engkau menjadi hamba bagi selainNya.

Baca lebih lanjut

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. Huud(11):123

Rejeki, jodoh, dan ajal sudah dijamin dan diatur. Meskipun begitu manusia senantiasa dibuat risau oleh ketiganya. Berapa, siapa, dan kapan adalah misteri yang sering ditanyakannya. Walau sejatinya sejak ruh ditiupkan ke perut sang ibu, catatan takdir tentang rejeki (termasuk jodoh di dalamnya), ajal, amal perbuatan, dan celaka atau bahagia telah pun kering tintanya. Baca lebih lanjut

 

(terjemahan bebas dari syair al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i*)

Biarkan saja hari-hari itu melakukan apa saja yang ia ingini
Dan relakan jiwamu bila ketentuan telah ditetapkan Baca lebih lanjut

Tawakal Po Tawakal?

Dialog Fiktif Di Sebuah Serambi Masjid

Salah satu tanda bergantung pada amal

adalah berkurangnya harapan tatkala gagal

(al Hikam (1), Ibn Atha’illah as Sakandari).

Suatu sore, sebelum jam buka puasa tiba, seorang anak muda kelihatan tengah curhat dengan Pakdenya. Mukanya kelihatan mengantuk, kayaknya bukan karena tadi malam i’tikaf deh. Memang dari sononya ngantukan gitu. Hari itu anak-anak TPA didikannya sedang outbond bersama remaja masjid yang lain, tak jauh dari masjid tempat mereka menunggu buka puasa. Sekarang, tinggallah dia dan Pakdenya larut dalam pembicaraan dewasa yang kelihatannya serius.

Katanya tawakal Le, mosok gitu aja mlempem?

krik…krik…krik…

Lha gimana to Pakde, saya sudah berikhtiar je. Bola-bali kok gagal lagi. Pripun Pakde?

Bocah..bocah.. Yang namanya tawakal itu kalau sudah ikhtiar kemudian gagal.. ya ikhtiar lagi. Ingat tawakal pada Gusti Allah, bukan tawakal pada amalmu sendiri. Kamu kuwi tawakal pada Allah opo tawakal pada amalmu?
Baca lebih lanjut

Hari yang berat, Allah yang lebih tahu apa yang bergolak di hatinya. Dulu laki-laki ini dibesarkan di tengah-tengah istana kerajaan. Kini keadaannya jauh berbeda, seorang diri dia berada di negeri asing. Sendiri, tanpa rumah tinggal, tanpa harta benda, tanpa sanak saudara. Sambil merenung, laki-laki perkasa itupun berteduh di bawah rindangnya pohon. Baca lebih lanjut

Sejarah Akan Berulang

 Suatu hari kamu akan tertawa bila teringat hari ini

التريخ يعيد نفسه

The history repeates itself (proverb)

Saat beberapa rekan kerja satu perusahaan mengisi libur akhir pekan dengan pergi jalan-jalan seputar Kuala Lumpur, saya sengaja memilih untuk tidak ikut bergabung. Ingin rasanya berdiam diri di penginapan sambil mencari inspirasi untuk menulis. Beberapa bulan terakhir ini, saya telah kehilangan semangat untuk menulis. Kalau ini dibiarkan bisa-bisa pikiran menjadi beku dan wawasan menjadi sempit. Maka laptop dinas itupun saya aktifkan. Karena tidak ada jaringan internet, kumpulan ebook yang berbulan-bulan terlantar tanpa dilirik itu akhirnya terbaca juga. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan momen untuk mengingat masa lalu, mengevaluasi diri, dan merenungkan kembali cita-cita masa depan yang belum tercapai. Ya beginilah, akhir-akhir ini rasanya pikiran-pikiran negatif itu terlalu dibiarkan menguasai. Pesimis, tidak mood, sedih, gundah gulana, menu harian di kantor yang harus segera diganti.

Ternyata eh ternyata, kondisi sekarang ini mirip keadaan saat sma kelas dua dan tahun ke dua kuliah. Saat itu, kelas caturwulan I kelas dua sma, saya berhasil masuk empat besar. Sama sekali tidak menggembirakan karena rangking itu bukanlah empat besar teratas melainkan empat besar dari belakang. Ini adalah titik nadir prestasi belajar saya selama sma. Kontradiktif dengan posisi saya sebagai seorang ketua umum organisasi sains klub. Baca lebih lanjut