Category: Ulama Mujahid


“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur..” [1]

-Allahu Ghoyatuna – Ar Rasul Qudwatuna – Al Qur’an Dusturuna –

-Al Jihadu Sabiluna – Al Mautu Fi Sabilillah Asma Amaniyna-

DOWNLOAD: Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia

Saat tanda-tanda kedatangan futur mulai terbaca, ada baiknya seorang mukmin berhenti sejenak. Saat motivasi hidup menjadi kabur dan komitmen awal meluntur, ada baiknya setiap pejuang mengambil jeda. Berhenti sejenak dan mengambil jeda bukan berarti berhenti beramal, namun seorang mukmin harus pandai-pandai membaca kapan semangatnya perlu disegarkan kembali. Berhenti sejenak dan mengambil jeda bukan berarti tanda menyerah, tapi justru di sana ada penjagaan terhadap  bara semangatnya. Baca lebih lanjut

Kisah Unik Seorang Mujahid Yang Ahli Ibadah Dari Kalangan Tab’ien

Shilah bin Asy-yam

sulthan-ulama

Mukaddimah

Inilah sebagian fragmen hidup seorang mujahid di masa tabi’in, kurun kehidupan terbaik setelah masa-masa shahabat Rasul SAW, potongan hidup seorang mukmin yang di dalam dirinya menyatu keutamaan ilmu, iman, ikhsan, wara’, dan jihad. Dialah Shilah bin asy-yam al ‘adawy.

Keutamaan seorang Shilah bin Asy-yam.

Dalam sebuah misi jihad di kota Kabul, sepasukan mujahidin sedang beristirahat malam setelah mereka melakukan perjalanan yang begitu melelahkan. Mereka pun menurunkan bekal dan menyatapnya, lalu menunaikan shalat isya’ secara berjamaah. Seusai sholat, mereka pergi menuju dekat kendaraan masing-masing untuk beristirahat, sekedar meluruskan tulang punggung, dan menghimpun tenaga guna melanjutkan perjalanan berikutnya keesokan harinya. Dalam kelompok mujahidin tersebut terdapat seorang ahli ibadah, sang mujahid agung Shilah bin Asy-yam. Beliaupun pergi menuju kendaraannya untuk beristirahat, seperti prajurit mujahidin lainnya.

Ketika teman-temannya telah terlelap dalam tidurnya, beliaupun bangkit dari istirahatnya dan diam-diam pergi meninggalkan perkemahan. Tanpa beliau ketahui ternyata ada sesosok mata yang telah mengawasi beliau sejak tadi. Sang mujahid ahli ibadah itu kemudian masuk ke dalam hutan, menuju tempat yang lebat pepohonannya dan dipenuhi rumput-rumput liar, seolah tempat itu belum pernah dilewati orang.

Dari kejauhan beliau masih diawasi orang yang sama. Seorang anggota mujahidin yang begitu penasaran dengan cerita orang tentang ibadah Shilah bin Asy-yam. Kata orang, Shilah begitu bersungguh-sungguh dalam ibadahnya hingga kakinya bengkak karenanya. Dan hal itu beliau lakukan baik dalam kondisi muqim dan safar, baik ketika beliau di rumahnya atau dalam suatu perjalanan, dalam keadaan luang maupun keadaan sibuk. Karena itulah si prajurit penasaran ini membuntuti langkah Shilah bin Asy-yam, untuk membuktikan sendiri perkataan orang-orang tentang beliau. Baca lebih lanjut

Sulthan al ’Ulama

-Raja Para Ulama-

A tribute to Syaikh al Mujahid, Izzuddin bin Abd Salam

 

 

Mukaddimah

sulthan ulama Inilah sebagian fragmen hidup seorang ulama mujahid. Ulama yang terkenal dengan keluasan ilmu dan keberaniannya dalam mengamalkan ilmunya. Seorang faqih dari madzhab asy Syafi’e, yang karena begitu faqihnya sampai beliau dianggap telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Seorang hakim pemberani, yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan terang-terang tanpa sedikitpun takut kepada penguasa. Semua itu dikerjakannya baik dengan tangan, lisan, maupun tulisan penanya yang tajam. Seorang yang digelari Sulthon al ‘Ulama, rajanya para ulama. Dialah al imam al mujahid ‘Abd Aziz bin Abd Salam yang lebih dikenal dengan al Imam ‘Izuddin bin Abd Salam.

Penentangan Beliau Terhadap Kemungkaran.

Ketika Imam Izuddin bin Abd Salam memegang posisi khotib di Jami’ al Umawy Damaskus pemerintahan kaum muslimin di wilayahnya dipegang oleh seorang yang bernama al Malik ash Sholeh Isma’il dari bani Ayyub. Masa itu adalah masa-masa akhir dari kekuasaan dinasti bani Ayyub, sebuah dinasti yang dirintis oleh seorang pahlawan mulia, mujahid yang namanya abadi di timur dan barat, Sulthan Sholahuddin al Ayyubi. Semula daulah yang didirikan oleh Saladin ini, demikian dunia barat menyebutnya, merupakan sebuah daulah yang kuat. Namun sayang sekali di masa akhirnya, para amir berlomba-lomba dalam meraih kekuasaan. Sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain. Hingga sebagian mereka sampai mengandalkan dukungan musuh kafir, hanya untuk memperkuat dukungan, politik dan militer, sehingga mereka bisa mengalahkan saudaranya untuk memperoleh tampuk kekuasaan. Saat itu al Malik ash Sholeh Isma’il mengadakan perjanjian dengan musuh -tentara kafir- serta menyerahkan beberapa benteng dan beberapa kota sebagai kompensasi atas dukungan politik dan militer dalam mengalahkan al Malik ash Sholih Ayyub di Mesir.

Melihat sebuah realita menghinakan –di mana seorang raja muslim bersekutu dengan raja kafir untuk menyerang raja muslim lainnya-, berdirilah sang imam di mimbarnya. Beliau berkhutbah dengan tema sentral pengingkaran atas apa yang telah dilakukan oleh Sholih Isma’il. Bahkan beliau menghentikan doa yang biasa dipanjatkan untuk sang raja. Kemudian beliau mengakhiri khutbahnya dengan doanya: Ya Allah jadikanlah untuk ummat ini satu urusan yang benar, yang didalamnya dimuliakan para kekasih-Mu, dan dihinakan musuh-Mu, diperintahkan di dalamnya kebaikan dan dilarang di dalamnya kemungkaran.

Mendengar aksi politis-demonstratif yang dilakukan oleh sang imam, marahlah sang raja bukan kepalang. Dikeluarkannya perintah untuk menjauhkan sang imam dari mimbar khutbah dan memenjarakan sang imam. Beberapa saat setelah itu, terjadilah gejolak di tengah rakyat sebagai aksi protes atas dipenjaranya sang imam. Sehingga pada akhirnya sang imam pun dikeluarkan dari penjara, bebas bersyarat. Sang imam boleh bebas, tetapi dicekal dari mimbar dan dilarang untuk berkhutbah di depan orang banyak. Khutbah politik sang imam dianggap berbahaya bagi eksistensi sang raja. Baca lebih lanjut