Category: Ukhuwah


Kalau Sedang Sendiri

Sendiri di kost saat Iedul Adha, duh seharusnya ini kan saat-saat silaturahim. Sempat terfikir, jauh dari keluarga seperti saat ini, bagusnya ngapain. Malah jadi bingung (red: sambil baca SMS dari kampung halaman “Maz Riza masih ndak enak badan?” Alhamdulillah sudah mendingan dari pada kemarin, pikirku). Ah sudahlah, mending dengerin kajian via radiostream aja. Atau posting album foto saja ya., itung2 maintenance blog setelah berbulan-bulan inaktif (red: ngapain aja sih kemarin, sok sibuk ni ye). Barangkali ini adalah kompensasi atas kesendirian, akhirnya saya memposting kumpulan foto bareng dengan keluarga dan teman-teman. Hiks, menghibur diri sendiri. Gapapa lah, kalo sempat nanti baca-baca kitab, siapa tau bisa di-share ilmunya.

Jadi, kesimpulannya apa sodara-sodara? Kalo sedang sendiri mending manfaatin waktu sebaik-baiknya. Boleh dengerin ceramah via radiostreaming, baca-baca kitab, atau utak-atik blog.  Asal bisa nambah2 ilmu atau duit ^_^

Iklan

TAUSHIYAH PERNIKAHAN

bunga_mawar_merah

Pengantar

Pernikahan adalah saat-saat yang paling berarti dalam sejarah hidup anak manusia. Dalam kesempatan tak terlupakan itu, ijinkanlah kami, saudara-saudaramu di jalan Allah, turut mengungkapkan kebahagian kami dengan sebuah taushiyah sederhana.

Kami menyakini bahwa antuma berdua lebih baik daripada sebagian kami. “Barangsiapa menikah (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya..” (HR. Al Hakim & Ath-Thahawi) Karunia Allah berupa kesempatan menyermpurnakan dien menjadi bukti bagi kami betapa Dia telah memilih, menyucikan, dan mengutamakan antuma berdua.

Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar (1)

Walaupun begitu, ijinkanlah kami menyampaikan beberapa baris taushiyah karena ini adalah bagian dari upaya kami melaksanakan firman-Nya:

“..(kecuali) yang saling bertaushiyah supaya menaati kebenaran dan bertaushiyah supaya menetapi kesabaran”. (2)

‘Ala kulli hal, kami berharap taushiyah ini menjadi pelengkap saat-saat indah bulan madu pernikahan penuh barakah ini (insya Allahu Ta’ala). Baca lebih lanjut

Undangan Tarbiyah Tsaqafiyah: Pola Komunikasi Suami Istri!

komunikasi

Pagi itu, saat berada di kampung halaman saya di Jogja, tiba-tiba ada SMS dari Pak Mustakim, ketua DPRa PKS Setiabudi. Isinya adalah undangan tatsqif untuk kader tarbiyah Setiabudi di masjid at Taufiq Guntur. Temanya psikologi komunikasi suami istri. Dalam batin saya berkata: “Hah.. gak salah nih?” Maklum, saya yang masih bujang thing-thing begini kok dapat undangan tingkat tinggi seperti itu.

Sehari sebelum hari H, ketika saya telah berada di Jakarta lagi, datang lagi satu SMS dari sang ketua DPRa. Isinya informasi khusus bagi kader yang akan hadir dalam acara tatsqif dan akan membawa buah hatinya. Mereka diharapkan untuk untuk membawa peralatan mewarnai dan menggambar karena panita kegiatan akan mengadakan acara pendamping khusus bagi anak-anak. Acara sederhana dengan kegiatan mewarnai dan menggambar bagi buah hati para ikhwah. Pikir saya, tentu orang tuanya dapat tetap bebas dan nyaman mengikuti acara, plus tidak perlu repot untuk menitipkan sang anak kepada orang lain. Di lain pihak, sang anak sendiri dapat menikmati dunianya tanpa perlu mendengar “materi berat khusus untuk dewasa” itu. Lha wong saya sendiri saja masih bertanya apakah saya sudah pantas mendengar materi itu, apalagi anak-anak yang masih imut-imut itu.

Bujangan boleh ikut.

Malam hari sebelum hari H, dalam forum pekanan, murabbi saya sempat mengumumkan kegiatan tatsqif untuk esok paginya. Kegiatan yang sama seperti diumumkan lewat struktur DPRa. Karena itu saya memutuskan untuk menghadiri undangan tatsqif pagi itu, ahad 31 Mei 2009. Pagi menjelang siang, saya pun dengan malu-malu (red: tapi mau) datang juga ke masjid at Taufiq di Guntur, persis di depan halte busway Halimun, Jakarta Selatan.

Baca lebih lanjut

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti kata-kata yang tak sempat terucapkan

oleh kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti isyarat yang tak sempat dikatakan

oleh awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

( Aku Ingin, Sapardi Joko Damono:1989)

Baca lebih lanjut

MAAFKAN AKU

bunga_mawar_merah

Saudaraku, telah diwajibkan untuk kita agar selalu saling menasehati dalam kebaikan agar hidayah Allah selalu tumbuh bersemi di hati kita.

Saudaraku, Allah Ta’ala telah berfirman, “Innama al-mu’minuuna ikhwatun”. Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sungguh perwujudan dari kalimat Ilahi itu ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan. Silang pendapat dan beda pendirian karena perbedaan cara pemikiran rupanya telah menjadi kata kunci sebuah kesalahpahaman ketika kita berusaha untuk saling menasehati. Kurangnya komunikasi rupanya juga ikut membumbui kesalahpahaman itu.

Saudaraku, tanpa kusadari seiring waktu berjalan, selebar itulah jurang perbedaan telah memisahkan kita. Saudaraku, ternyata begitu banyak perbedaan yang menghalangi kita untuk saling bersilaturahmi merajut benang-benang kasih sayang Islami yang kaffah.

Saudaraku, tak ada solusi lain untuk tetap rekatnya ukhuwah kita selain saling memahami dengan komunikasi dan dialog yang terbuka agar tausiyah diantara kita mampu berjalan dengan semestinya.

Saudaraku, tengoklah kembali segala perbuatanku di masa lalu. Ketika hari itu aku berbuat khilaf terhadapmu. Maafkan aku saudaraku. Marilah kita kembali kepada persaudaraan sejati kita.

Saudaraku, apakah yang menghalangimu untuk memaafkanku. Apakah karena besarnya kesalahanku ataukah yang lain ? Aku benar-benar tidak tahu. Kekhilafanku terbit lantaran kerasnya hatiku, maka sekarang permohonanku timbul dari keinsyafku. Dengan kebesaran namaNya maafkan kekhilafanku.

Saudaraku. terkadang putus harapanku dari kemaafanmu. Entahlah…adakah pintunya ‘kan terbuka meski kuncinya pernah kupatahkan ? Namun bagaimanapun juga tak boleh aku berputus asa karena telah tertulis kalimatNya yang suci, “Dan (Dia lah) yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya Ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” [al Anfal : 63]. Aku bukanlah makhluk yang berkuasa untuk memegang hatimu. Akhirnya siapa lagi yang dapat kuandalkan selain Allah.

Saudaraku, semoga Allah mengukir kata maaf untukku di hatimu. Semoga Allah merakit kembali ukhuwah kita yang hampir hilang dan meridhoi kita dalam persaudaraan haqiqi. Persaudaraan dengan ikatan hati suci yang terajut dalam satu cinta dan cita-cita mulia untuk menegakkan syariatNya yang mulia.. [ar Razy]

(dikutip dengan perubahan dari catatan seorang ikhwan untuk saudaranya, 2001)

PE-032-0772

Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja,

dan dengan malam dan apa yang diselubunginya,

dan dengan bulan apabila menjadi purnama,

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Sungguh, tujuhbelas tahun yang lalu kristal-kristal bening yang mengalir dari mata seorang wanita telah menjadi saksi lahirnya seorang insan. Ya…seorang insan yang kehadirannya telah dinantikan selama beberapa waktu oleh kedua orang tuanya. Terbayang tangisan pertamanya indah mengalun, memecah kesunyian, membuat simpulan senyum bagi sesiapa yang mendengarnya.

Tak terasa tujuhbelas tahun berlalu begitu cepat. Entahlah rupanya permainan waktu telah kontras merubah segalanya. Telah dia nikmati susah-senangnya kehidupan. Telah berlalu di hadapannya berbagai ujian dan cobaan yang menghiasi sepanjang hidupnya. Alur pergantian pahit getir dan manisnya kehidupan telah dia telusuri. Banyaklah sudah berbagai persoalan hidup itu di selesaikannya.

Pagi ini, seberkas sinar mentari yang cerah dari balik ufuk timur menandai telah genaplah kini dia berusia tujuhbelas tahun. Sebuah bilangan usia yang menyatakan batas kedewasaan.

Selamat Ulang Tahun kuucapkan untuknya.

Jogjakarta, 2002