Category: Da’wah Pergerakan


Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.

(Syaikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah)

Ada satu pelajaran berharga untuk setiap ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang terjadi di masa Syaikh Abdul Qadir al Jilani. Sebagaimana telah masyhur diketahui, beliau adalah salah seorang ulama kharismatik ahli thariqah sunniyah yang terkenal dengan karamahnya. Sampai-sampai Syaikh Izzuddin bin Abdissalam, ulama besar madzhab Syafi’i, mengatakan: “Tidak pernah kita mendengar karamah seseorang secara mutawatir kecuali karamah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.”

Begini kisahnya. Sepeninggal gurunya, Syaikh Abdul Qadir berniat memperluas dan membangun ulang madrasah peninggalan sang guru. Maka umat pun menyambut antusias keinginan beliau sehingga orang-orang kaya lantas menyumbangkan hartanya untuk pembangunan madrasah. Orang-orang faqir juga tak ingin kehilangan kesempatan beramal dengan mencurahkan tenaganya. Para pengikut syaikh Abdul Qadir benar-benar menunjukan pengorbanan dalam perjuangan dakwah sang syaikh. Baca lebih lanjut

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur..” [1]

-Allahu Ghoyatuna – Ar Rasul Qudwatuna – Al Qur’an Dusturuna –

-Al Jihadu Sabiluna – Al Mautu Fi Sabilillah Asma Amaniyna-

DOWNLOAD: Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia

Saat tanda-tanda kedatangan futur mulai terbaca, ada baiknya seorang mukmin berhenti sejenak. Saat motivasi hidup menjadi kabur dan komitmen awal meluntur, ada baiknya setiap pejuang mengambil jeda. Berhenti sejenak dan mengambil jeda bukan berarti berhenti beramal, namun seorang mukmin harus pandai-pandai membaca kapan semangatnya perlu disegarkan kembali. Berhenti sejenak dan mengambil jeda bukan berarti tanda menyerah, tapi justru di sana ada penjagaan terhadap  bara semangatnya. Baca lebih lanjut

Kalau Sedang Sendiri

Sendiri di kost saat Iedul Adha, duh seharusnya ini kan saat-saat silaturahim. Sempat terfikir, jauh dari keluarga seperti saat ini, bagusnya ngapain. Malah jadi bingung (red: sambil baca SMS dari kampung halaman “Maz Riza masih ndak enak badan?” Alhamdulillah sudah mendingan dari pada kemarin, pikirku). Ah sudahlah, mending dengerin kajian via radiostream aja. Atau posting album foto saja ya., itung2 maintenance blog setelah berbulan-bulan inaktif (red: ngapain aja sih kemarin, sok sibuk ni ye). Barangkali ini adalah kompensasi atas kesendirian, akhirnya saya memposting kumpulan foto bareng dengan keluarga dan teman-teman. Hiks, menghibur diri sendiri. Gapapa lah, kalo sempat nanti baca-baca kitab, siapa tau bisa di-share ilmunya.

Jadi, kesimpulannya apa sodara-sodara? Kalo sedang sendiri mending manfaatin waktu sebaik-baiknya. Boleh dengerin ceramah via radiostreaming, baca-baca kitab, atau utak-atik blog.  Asal bisa nambah2 ilmu atau duit ^_^

TAUSHIYAH PERNIKAHAN

bunga_mawar_merah

Pengantar

Pernikahan adalah saat-saat yang paling berarti dalam sejarah hidup anak manusia. Dalam kesempatan tak terlupakan itu, ijinkanlah kami, saudara-saudaramu di jalan Allah, turut mengungkapkan kebahagian kami dengan sebuah taushiyah sederhana.

Kami menyakini bahwa antuma berdua lebih baik daripada sebagian kami. “Barangsiapa menikah (beristeri) maka dia telah melindungi (menguasai) separo agamanya..” (HR. Al Hakim & Ath-Thahawi) Karunia Allah berupa kesempatan menyermpurnakan dien menjadi bukti bagi kami betapa Dia telah memilih, menyucikan, dan mengutamakan antuma berdua.

Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar (1)

Walaupun begitu, ijinkanlah kami menyampaikan beberapa baris taushiyah karena ini adalah bagian dari upaya kami melaksanakan firman-Nya:

“..(kecuali) yang saling bertaushiyah supaya menaati kebenaran dan bertaushiyah supaya menetapi kesabaran”. (2)

‘Ala kulli hal, kami berharap taushiyah ini menjadi pelengkap saat-saat indah bulan madu pernikahan penuh barakah ini (insya Allahu Ta’ala). Baca lebih lanjut

Undangan Tarbiyah Tsaqafiyah: Pola Komunikasi Suami Istri!

komunikasi

Pagi itu, saat berada di kampung halaman saya di Jogja, tiba-tiba ada SMS dari Pak Mustakim, ketua DPRa PKS Setiabudi. Isinya adalah undangan tatsqif untuk kader tarbiyah Setiabudi di masjid at Taufiq Guntur. Temanya psikologi komunikasi suami istri. Dalam batin saya berkata: “Hah.. gak salah nih?” Maklum, saya yang masih bujang thing-thing begini kok dapat undangan tingkat tinggi seperti itu.

Sehari sebelum hari H, ketika saya telah berada di Jakarta lagi, datang lagi satu SMS dari sang ketua DPRa. Isinya informasi khusus bagi kader yang akan hadir dalam acara tatsqif dan akan membawa buah hatinya. Mereka diharapkan untuk untuk membawa peralatan mewarnai dan menggambar karena panita kegiatan akan mengadakan acara pendamping khusus bagi anak-anak. Acara sederhana dengan kegiatan mewarnai dan menggambar bagi buah hati para ikhwah. Pikir saya, tentu orang tuanya dapat tetap bebas dan nyaman mengikuti acara, plus tidak perlu repot untuk menitipkan sang anak kepada orang lain. Di lain pihak, sang anak sendiri dapat menikmati dunianya tanpa perlu mendengar “materi berat khusus untuk dewasa” itu. Lha wong saya sendiri saja masih bertanya apakah saya sudah pantas mendengar materi itu, apalagi anak-anak yang masih imut-imut itu.

Bujangan boleh ikut.

Malam hari sebelum hari H, dalam forum pekanan, murabbi saya sempat mengumumkan kegiatan tatsqif untuk esok paginya. Kegiatan yang sama seperti diumumkan lewat struktur DPRa. Karena itu saya memutuskan untuk menghadiri undangan tatsqif pagi itu, ahad 31 Mei 2009. Pagi menjelang siang, saya pun dengan malu-malu (red: tapi mau) datang juga ke masjid at Taufiq di Guntur, persis di depan halte busway Halimun, Jakarta Selatan.

Baca lebih lanjut

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti kata-kata yang tak sempat terucapkan

oleh kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

seperti isyarat yang tak sempat dikatakan

oleh awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

( Aku Ingin, Sapardi Joko Damono:1989)

Baca lebih lanjut