Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. Huud(11):123

Rejeki, jodoh, dan ajal sudah dijamin dan diatur. Meskipun begitu manusia senantiasa dibuat risau oleh ketiganya. Berapa, siapa, dan kapan adalah misteri yang sering ditanyakannya. Walau sejatinya sejak ruh ditiupkan ke perut sang ibu, catatan takdir tentang rejeki (termasuk jodoh di dalamnya), ajal, amal perbuatan, dan celaka atau bahagia telah pun kering tintanya.

Sesungguhnya Allah telah menutup ilmu takdir dari pengetahuan manusia. Ini adalah hal gaib yang menjadi rahasia Allah semata. Beberapa kelompok manusia telah terseret dalam debat kusir dan pemikiran filsafat dalam membicarakan takdir. Namun justru pembahasannya malah menjadi sumber keraguan hati karena mereka memperbicangkan hal gaib dengan hati yang tidak bersih dan atas dasar persangkaan belaka. Satu kelompok mengingkari takdir karena kegaibannya. Kelompok lainnya mengaku-aku mengetahui apa yang gaib ini. Dua pendapat yang menghantarkan mereka pada kekafiran.

Ketetapan Allah pasti akan terjadi. Apa yang telah ditetapkan tidak menimpa seseorang, tentu tidak akan menimpa. Dan apa yang ditetapkan bakal menimpa tentu tidak akan meleset. Sungguh yang demikian ini amatlah mudah bagi Allah. Perkara takdir adalah urusan Allah, bukan urusan makhluk-Nya. Dia menetapkan takdir dengan hikmah (kebijaksanaan), keadilan, dan penuh dengan keluasan rahmat (kasih sayang). Allah tidak akan ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi justru merekalah yang akan ditanya.

Manusia… apakah dia mengira bahwa dia diciptakan dengan sia-sia tanpa ditanya tentang amal ibadahnya? Apakah dia akan dibiarkan begitu saja saat mengatakan kami beriman, dan kemudian tidak diuji lagi? Ketika manusia tahu dirinya diberi pilihan jalan kebaikan dan keburukan, diilhamkan padanya kefujuran dan ketakwaan, maka yang menjadi tugasnya adalah merealisasikan ubudiyah (penghambaan) dan ketawakalan pada-Nya. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Dengan inilah mereka akan dituntut.

Allah Ar Rahman Ar Rahim, telah menjamin segala kebutuhan hidup hamba lahiriah dan batiniah. Allah yang kasih sayang-Nya mengalahkan kemarahan-Nya. Allah yang dengan rahmat-Nya memasukkan hamba ke dalam surga dan dengan keadilan-Nya menghukum hamba-Nya yang mengabaikan perintah-Nya. Allah yang Maha Bijak, menetapkan segala sesuatu tepat sesuai dengan ukuran dan masanya.

Hidup di dunia dengan segala misteri rejeki, jodoh, dan ajal serta segala kegaiban takdir seharusnya tetap membuat manusia penuh semangat menghadapi ujian. Mengambil sebab adalah sesuatu yang diperintahkan. Tak perlu sedih, gelisah, atau frustasi berkepanjangan memikirkan sesuatu yang sudah dijamin. Serahkan saja semuanya kepada Allah. Dia mencintai hambanya lebih dari cinta hamba kepada-Nya. Tak usah membuka pintu syetan dengan perkataan andaikan begini andaikan begitu, karena semua yang ditetapkan Allah adalah baik.

Yang gaib biarlah tetap gaib, tugas manusia sekarang adalah beribadah dan bertawakal. Allah sedikitpun tidak akan pernah lalai dari amal ibadah hamba-Nya.

Kesungguhanmu untuk mencapai apa yang telah dijamin Allah dan kelalaianmu dalam apa yang telah dituntut darimu adalah tanda kebutaan mata hatimu (Al Hikam Ibn ‘Athoillah)

Setiabudi, 10 Januari 2012

Alhamdulillah, terima kasih untuk Ustadz Wawan al Makki yang sedang berlibur di jogja tercinta. Terima kasih untuk SMS dan telpon di hari Jumat pekan lalu. Uhibbuka fillah ya akhi..