Barangkali Allah memberimu maka Dia menolakmu, dan bisa jadi dia menolakmu maka dia memberimu. Maka saat terbuka untukmu pintu pemahaman tentang penolakan-Nya, berubahlah penolakan itu menjadi pemberian.

[al Hikam 83-84, Ibn Atha’illah as Sakandari]

Saat Cita Harus Tertunda.

Seringkali kita berdoa memohon pada Allah untuk suatu perkara. Tidak kurang satu dua kali, bahkan ada yang kemudian dirutinkan pada saat-saat tertentu. Tidak cukup sendiri, malah orang lain juga diminta ikut berdoa. Orang tua dalam sholat dan munajat mereka, bahkan teman yang sedang umrah ataupun haji pun ikut dititipi pesan untuk melantunkan doa yang sama. Tidak ada maksud lain, selain harapan agar Allah segera mengabulkan permohonan itu.

Ketika berada dalam masa penantian terkabulnya satu doa tidak jarang kita berandai-andai. Alangkah indahnya jika permohonan itu terkabul sekarang juga. Pertanyaannya, apakah semuanya benar-benar akan indah bila doa terkabul saat itu juga?

Sesungguhnya pada setiap doa ada masa dan ukurannya. Mari, sejenak bersama kita lihat i’tibar tentang doa dan ijabah dalam Al Quran.

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami – akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” <88> AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. <89> [1]

Nabi Musa ‘alaihissalam, salah seorang rasul ‘ulul azmi yang utama, berdoa memohon pada Rabbnya agar membinasakan Fir’aun, manusia paling kafir di muka bumi, serta pengikutnya. Tidak ada yang lebih dzalim, fasiq, dan kafir daripada mereka saat itu. Yang berdoa adalah Musa ‘alaihissalam seorang Nabi. Yang mengamini adalah Harun ‘alaihissalam seorang Nabi juga. Yang didoakan adalah seorang kafir beserta pengikut-pengikutnya. Apa kurangnya? Meskipun demikian, terkabulnya doa ini pun tertunda. Sebagian mufassir menjelaskan jarak waktu antara doa di ayat 88 dengan ijabahnya di ayat 89 adalah 40 tahun persis. Allahu Akbar.

Baiklah, mari kita lanjutkan renungan kita pada kisah ini:

Thaa Siin Miim <1>. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur’an) yang nyata (dari Allah) <2>. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman <3>. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka . Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan <4>. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) <5>. Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu <6>. [2]

Lihatlah, bagaimana pemberian untuk Fir’aun dan pengikutnya -perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia- hakekatnya adalah penolakan dari rahmat Allah sehingga terkunci hati mereka dari hidayah. Dan lihat pula penolakan (baca: penundaan) bagi bani Israil -kekalahan, ketertindasan, dan perbudakan- tersimpan dibelakangnya karunia kepemimpinan, pewarisan kekuasaan, dan peneguhan di muka bumi

Pemberian untuk Firaun dan pengikutnya hakekatnya adalah penolakan. Sedang penolakan untuk Musa ‘alaihissalam dan bani Israil hakekatnya adalah pemberian. Sungguh tepat Ibn Atha’illah merumuskannya:

Barangkali Allah memberimu maka Dia menolakmu, dan bisa jadi dia menolakmu maka dia memberimu”. [3]

Apakah ini penolakan Allah?

Setiap pembelajar Al Quran dan pengkaji hadist pastilah faham bahwa Allah tidak pernah menolak permohonan, selama bukan dalam hal dosa dan pemutusan hubungan persaudaraan.

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku <186> [4]

Kapan saja seorang muslim tergerak hatinya untuk berdoa, pastilah ada karunia di sana. Dengan ungkapan indah, Ibn Atha’illah mengatakannya dalam al Hikam:

Saat Dia membiarkan lisanmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Dia menghendaki untuk memberimu karunia. [5]

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada seorang muslim pun yang yang berdoa dengan satu doa melainkan Allah akan memberinya satu diantara tiga, entah dikabulkanNya permohonannya atau disimpan untuknya di akhirat, atau disingkirkan suatu keburukan yang sepadan dengannya. Mereka para sahabat berkata, “kalau begitu kita memperbanyak doa saja!” Rasulullah berkata: Allah pun akan memperbanyak (pahala kalian)” [6]

Beruntunglah mereka yang tetap berdoa dan tidak tergesa-gesa menginginkan karunia sesaat. Ijabah bisa saja datang saat ini atau masa yang akan datang berdasar hikmah-Nya. Hanya persoalan waktu saja. Seandainya karunia itu dilimpahkan pada masa sekarang, maka memang itulah yang terbaik. Dan seandainya pun tidak, itu pula yang terbaik. Saat seorang muslim merasa bahwa keduanya adalah yang terbaik, akan sama saja di mata batinnya hakekat di belakang pemberian dan penundaan adalah karunia Allah yang Maha Bijaksana. Dan perasaan ini tidaklah dimiliki melainkan oleh orang-orang yang telah dibukakan untuknya pintu pemahaman.

Maka saat terbuka untukmu pintu pemahaman tentang penolakan-Nya, berubahlah penolakan itu menjadi pemberian. [7]

Yang Terbaik Menurut Allah.

Penundaan ijabah doa memang menjadi ujian tersendiri bagi seorang muslim. Namun selayaknya ia mengetahui satu hakekat bahwa Allah itu sebaik-baik Pengatur. Saat Dia memberi maka itu adalah kemurahanNya, dan saat dia menahan maka itu karena keadilanNya. Dan manusia bukanlah siapa-siapa yang berhak marah bila permohonannya ditunda.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” [8]

Lintasan pikiran “alangkah indahnya jika permohonan itu terkabul sekarang juga” bisa jadi berkelebat hebat di benaknya. Semuanya kelihatan indah saat jiwa telah terjebak dalam perasan cinta dan buaian alam angan-angan. Karena jiwa lebih sering mencintai sesuatu yang mudah dan cepat serta cenderung membenci saat harus menunggu. Tapi Allah lebih mengetahui mana yang terbaik, lepas dari perasaan cinta dan bencinya, dan sedangkan hikmah Allah  itu menembus batas-batas logika manusia.

Karena itu, ketika perasaan tidak dapat dijadikan lagi sandaran sementara logika juga tak mampu menjangkau mana yang terbaik, patutlah kembali untuk meresapi makna doa istikharah ini:

Dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, dan Engkau Maha Tahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.

Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta lebih baik pula akibatnya di dunia dan akhirat, maka takdirkanlah dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini.

Jangan Tergesa-gesa.

Saat memohon pada makhluq dan kemudian ditolak, rasanya amat berat bagi kita mengulang untuk meminta. Namun saat memohon pada Al Khaliq janganlah kita jemu untuk mengulang permintaan.

“Akan terkabul permohonan kalian selama ia tidak tergesa-gesa dan kemudian berkata: Sungguh, aku telah memohon kepada-Mu wahai Rabbi, namun belum juga terkabul” [9]

Setelah itu, istirahatkan jiwa dari kerisauan karena Allah Sebaik-baik Pengabul Doa dan Sebaik-baik Pembuat Rencana.

 

Setiabudi, Pagi 22 Desember 2010

Uncertainty is part of reality, begitu sang jenius Albert Einstein mengatakannya. Dan memang begitu kenyataannya. Saat hari demi hari berlalu hingga menjelang pergantian tahun ini banyak sudah peristiwa terjadi. Ada yang memang direncanakan, ada pula yang terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa rekayasa, mengalir, dan terjadilah. Benar-benar hidup ini penuh misteri.

Merenung, sambil menyusuri lembaran-lembaran masa lalu, saya dapati sebuah SMS ini di catatan saya:

Klo pun Allah mengabulkn doa sy, sy yaqin bahwa Allah adalah Sebaik-baik Pengabul Doa, namun bila tdk sy tetap yaqin bahwa Dia Sebaik-baik Pembuat Rencana (30 November 2008, 11:43AM)

Dua tahun lebih berlalu sudah, saya berkesempatan untuk merenungkannya lagi, dan akhirnya lahirlah tulisan ini. Terima kasih untuk Ibu yang tidak pernah jemu memotivasi agar selalu berdoa dan tidak pernah putus harapan.

 

[1] QS Yunus (10): 88-89

[2] QS Al Qashash (28): 1-6

[3] al Hikam: 83

[4] QS Al Baqarah (2): 186

[5] al Hikam: 102

[6] HR At Tirmidzi 3573 dari Abu Sa’id Al Khudri, dan At Tirmidzi menshohihkan hadist ini.

[7] al Hikam: 84

[8] QS Al-Baqarah(2): 216

[9] HR. Al Bukhari 11/40

 

Referensi:

al Hikam Ibn Athaillah, edisi Al Hikam Rampai Hikmah, Penerbit Serambi

Washiyah al Musthafa li Ahli ad Da’wah, DR. Abdullah Azzam, edisi terjemahan Nasehat-Nasehat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam Penawar Lelah Pengemban Dakwah,  Penerbit Uswah