Dialog Fiktif Di Sebuah Serambi Masjid

Salah satu tanda bergantung pada amal

adalah berkurangnya harapan tatkala gagal

(al Hikam (1), Ibn Atha’illah as Sakandari).

Suatu sore, sebelum jam buka puasa tiba, seorang anak muda kelihatan tengah curhat dengan Pakdenya. Mukanya kelihatan mengantuk, kayaknya bukan karena tadi malam i’tikaf deh. Memang dari sononya ngantukan gitu. Hari itu anak-anak TPA didikannya sedang outbond bersama remaja masjid yang lain, tak jauh dari masjid tempat mereka menunggu buka puasa. Sekarang, tinggallah dia dan Pakdenya larut dalam pembicaraan dewasa yang kelihatannya serius.

Katanya tawakal Le, mosok gitu aja mlempem?

krik…krik…krik…

Lha gimana to Pakde, saya sudah berikhtiar je. Bola-bali kok gagal lagi. Pripun Pakde?

Bocah..bocah.. Yang namanya tawakal itu kalau sudah ikhtiar kemudian gagal.. ya ikhtiar lagi. Ingat tawakal pada Gusti Allah, bukan tawakal pada amalmu sendiri. Kamu kuwi tawakal pada Allah opo tawakal pada amalmu?

Maksudnya napa Pakde?

Tawakal kuwi artinya akhdzul asbab wa raj’un natijah. Mengambil sebab, dan mengembalikan hasil. Mengambil sebab dengan ikhtiar. Pengen pinter.. ya belajar! Pengen kaya.. ya bekerja! Setelah mengambil sebab, serahkan hasilnya pada Allah. Nah iku namanya bertawakal pada Allah.

Lha kalau bertawakal pada amal?

Bertawakal pada amal maksudnya mengandalkan semata-mata amalmu sendiri. Berhasil atau tidaknya ikhtiar, kamu sandarkan pada amalmu sendiri. Padahal, kamu punya kehendak sedangkan Gusti Allah juga punya kehendak, dan kehendak Allah itu yang akan terjadi.

Lantas tanda-tanda tawakal pada amal itu apa Pakde?

Kalau kamu sudah ikhtiar kemudian gagal dalam ikhtiar itu, harapan kamu menjadi berkurang. Itu salah satu tandanya.

Lha kalau tawakal pada Allah?

Berbeda kalau kamu bertawakal kepada Allah, Ambil sebab, ikhtiar dulu.. optimis harapanmu terkabul. Kalau gagal ya ikhtiar lagi, tanpa berkurangnya harapan saat gagal tadi. Tentu ada skenario Allah yang indah untukmu. Masalah hasil, itu kan urusan Gusti Allah. Dia yang lebih tahu. Apa saja yang Gusti Allah kehendaki untuk kita, itulah yang terbaik untuk kita.

krik…krik…krik…

Waduh, berat Pakde.

Berat gimana to? Kalau kamu sudah benar mengambil sebab dan kemudian menyerahkan hasilnya pada Allah, urusannya benar-benar akan menjadi ringan. Lega, karena kamu sudah menggugurkan kewajiban ikhtiar.. dan lega pula karena kamu sudah tahu yang ditakdirkan Allah buatmu pasti yang terbaik untukmu saat itu.

Nggih Pakde.. saya dikit-dikit paham.

Sing penting, diamalkan dulu..

Nggih Pakde

Njur kapan Le?

krik…krik…krik…

Maksudnya? Apanya Pakde?.. Kapan? Emm.. Anu.. Aduh.. Eea.. Jam berapa Pakde? Nyuwun sewu kayaknya niki sudah hampir maghrib, saya panggil anak-anak pulang ke masjid dulu ya…

*jurus langkah seribu..*

Wow.. bocah ki nek sih enom, wong ditakoni kapan buka puasa kok malah kabur. Ra nyambung…

krik…krik…krik…

Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan, janganlah membuatmu berpatah harapan. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini (al Hikam (6), Ibn Atha’illah as Sakandari).

 

 

 

Menara Duta, 02 September 2010 14:45

23rd Ramadhan 1431 H

(After this “IFT_MYDE1_NR_RTN_041” had been healed from my task list)

Referensi: al Hikam oleh Ibn Atha’illah as Sakandari Penerbit Serambi.