Hari yang berat, Allah yang lebih tahu apa yang bergolak di hatinya. Dulu laki-laki ini dibesarkan di tengah-tengah istana kerajaan. Kini keadaannya jauh berbeda, seorang diri dia berada di negeri asing. Sendiri, tanpa rumah tinggal, tanpa harta benda, tanpa sanak saudara. Sambil merenung, laki-laki perkasa itupun berteduh di bawah rindangnya pohon.

Sebelumnya, dengan penuh rasa takut, terpaksa dia meninggalkan negerinya. Tidak banyak waktu tersedia. Dia harus pergi hari itu juga. Seorang sahabatnya dengan tergesa-gesa datang jauh dari ujung kota, memberi tahu kabar menakutkan untuknya, “Para penguasa negeri sedang berunding untuk membunuhmu”. “Keluarlah dari negeri ini”, begitu nasehat sahabatnya. Saat itu juga dia pergi. Meninggalkan rindangnya naungan istana, meninggalkan sejuknya kasih sayang keluarga. Seorang diri bersama kesendiriannya.  Diantara rasa takut yang menyelinap di hatinya, satu doa dia pohonkan untuk Tuhannya. “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” Dan pergilah dia meninggalkan tanah airnya, tanpa tahu harus kemana menuju. Tak ada bekal yang berharga untuk dibawa, selain tawakal di hatinya yang tergambar jelas dari lisannya “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.” Dan benarlah harapannya hingga Allah menunjukinya sampai di negeri Madyan.

Setelah melalui perjalanan berat dan melelahkan, sampai juga dia sebuah mata air di negeri itu. Dilihatlah olehnya dua sosok wanita berdiri di belakang sekelompok penggembala yang berdesak-desak mengelilingi sebuah sumber air untuk memberi minum ternak. Oh, rupanya dua orang gadis yang sedang menunggu kesempatan untuk memberi minum ternaknya. Menunggu sampai para penggembala lelaki itu sudah selesai. Kasihan,  salah seorang diantara mereka berujar kalau ayahnya sudah sangat tua sehingga tidak dapat menggembalakan ternaknya.  Susahnya, setiap kali selesai memberi minum ternak, para penggembala itu meletakkan batu besar untuk menutup sumur tersebut. Maka jiwa ksatria laki-laki itu bersinar, diangkatnya batu besar itu sendirian, dan ditolongnya kedua wanita muda itu. Batu besar  penutup sumur yang hanya sanggup diangkat oleh sepuluh orang itu sanggup diangkatnya seorang diri.  Ya, meskipun dia baru saja datang dari perjalanan jauh dan rasa lapar perutnya sudah tidak tertahankan lagi. Selama pelarian ini, hanya daun-daunan dan sayur mayur saja yang masuk ke perutnya. Benar-benar laki-laki perkasa, Musa ‘alaihissalam. Beratnya hari itu, membawanya berteduh diantara hijaunya pepohonan.

Diantara rasa lapar dan keterasingan, terucaplah satu curahan hati pada Tuhannya. Dari lisan mulianya, meluncurlah satu munajat yang sangat bersahaja. Rabbi inni limaa anzalta ilaiyya min khairin faqir. “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Khair itu maknanya kebaikan. Satu kata yang merangkum makna semua yang mencukupi manusia, yang dapat dia ambil manfaatnya, baik secara materi maupun maknawi. Dan begitulah, Musa ‘alaihissalam benar-benar faqir, sangat perlu, terhadap kebaikan yang Allah turunkan. Saat Musa ‘alaihissalam dalam keadaan safar, dan berharap sangat kepada Tuhannya, apakah yang selanjutnya terjadi?

Maka Allah pun mengabulkan permohonanannya. Sebaik-baik khair untuk seorang yang terasing adalah tempat berlindung. Tempat berlindung yang memberinya apa yang dia perlukan secara materi dan maknawi, yakni makanan, teman hidup, dan tempat tinggal. Ternyata Allah memberikan khair melalui keluarga dua gadis yang pernah ditolongnya. Salah seorang diantara mereka dengan malu-malu mengundang Musa ‘alaihissalam ke rumah ayahnya. Sang ayah ingin mengucapkan terima kasih pada Musa ‘alaihissalam. Dan Musa ‘alihissalam pun bercerita tentang nasibnya sehingga dia sampai terdampar di negeri asing ini, sendirian. Sang ayah membesarkan hati Musa ‘alaihissalam, bahkan kemudian berniat menikahkan salah seorang putrinya dengan mahar pekerjaan mengelola ternaknya selama 8 tahun.

Dan dari curahan hati Musa ‘alaihissalam, Allah benar-benar telah mengaruniakan kepadanya rumah yang baik, isteri yang sholihah, dan juga pekerjaan bersih dan halal.

Menara Duta, 30 Agustus 2010

(Antara Dzuhur dan Asar, di hari ke-20 Ramadhan 1431 H)

Red: Dari seorang yang faqir terhadap kebaikan Tuhannya

Kisah Nabi Musa ‘alaihissalam ini terdapat dalam al Qashash (28) : 18-28

Disarikan dari artikel-artikel berikut:

http://www.alsofwah.or.id/cetaktarikh.php?id=136

http://ejabat.google.com/ejabat/thread?tid=62267f7b2d210cb4&pli=1

http://akhawat.islamway.com/forum/index.php?showtopic=17331

Gambar dari:

http://belumadajudul.blogdrive.com/