Kisahnya begitu masyhur, karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang menuturkannya. Sampai kemudian Imam Bukhari dan Imam Muslim mencatatnya dalam kedua kitab shahih mereka dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Demikianlah, saat itu adalah masa pemerintahan seorang raja yang sekaligus rasul, khalifatullah Daud ‘alaihissalam.

_________________________________________________________________________________

“Ada dua orang wanita masing-masing dengan anaknya. Datanglah seekor serigala dan mencuri anak salah seorang dari keduanya. Maka salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, ‘Serigala itu mencuri anakmu.’ Yang lain menjawab, ‘Anakmulah yang dicuri oleh serigala.’ Keduanya pun mengadukan hal itu kepada Dawud, maka Dawud memutuskan anak itu milik wanita yang lebih tua. Keduanya pergi kepada Sulaiman dan menyampaikan hal itu. Sulaiman berkata, ‘Ambillah untukku pisau. Aku akan membelahnya untuk mereka berdua.’ Wanita muda berkata, ‘Jangan, semoga Allah merahmatimu. Anak ini adalah anaknya (si wanita tua).’ Maka kemudian Sulaiman memutuskan anak ini adalah anak si wanita muda”.[1]

_________________________________________________________________________________

Mencintai lebih dari sekedar ingin memiliki. Karena alasan ini, sang wanita muda siap melepas cintanya. Siap dan rela untuk mencintai tanpa memiliki. Keputusan pahit ini harus diambil agar anaknya itu tetap hidup. Tidak ada pilihan lain. Resikonya pun jelas, sang wanita muda tidak akan lagi bisa merawat, menjaga, dan mendidik bayi tercintanya. Dan begitulah, saat mencintai tanpa memiliki, makna utuh cinta tidak akan pernah dapat termanifestasi.

Entah apa yang ada di hatinya ketika itu, saat dikatakannya “Anak ini adalah anaknya.” Dia pun tahu persis wanita tua itu sama sekali tidak berhak mengakui anaknya. Andai si wanita tua menghadirkan seribu alasan untuk menguatkan pengakuannya, sampai kiamat pun bayi ini adalah tetap darah daging yang pernah dilahirkannya.  Sampai kapanpun bukan anak si wanita tua itu. Tapi sudahlah, untuk yang satu ini dia memang harus mengalah. Tidak begitu penting lagi dengan siapa anaknya tinggal nanti, asalkan buah hatinya tetap masih hidup, itu jauh lebih penting. Tidak ada pilihan lain. Dan beginilah cerita cinta, justru disinilah akhirnya kebenaran terkuak. Ibu mana yang merelakan anaknya dibelah dan dibunuh di depan matanya? Atas hujjah inilah, akhirnya Sulaiman ‘alaihissalam memutuskan bahwa wanita muda ini adalah ibu yang sebenarnya bagi bayi mungil itu.

Mengalah, tanda cinta sang ibu untuk bayinya. Manis buahnya, sang anak pun kembali ke dekapannya.

Menara Duta, 19 Agustus 2010
(ditulis sambil menunggu observation report dari Kelana Jaya)

NB. Untuk yang sedang fighting: bila memang mengalah itu satu-satunya jalan terbaik, jangan pernah khawatir jodoh tidak akan kemana. Keep fighting!

[1] Al Bukhari Kitab Ahadisil Anbiya’ -bab biografi Sulaiman- 6/458 no. 3427, Kitabul Faraidh -bab jika seseorang wanita mengakui seorang anak- 12/55, no. 6769; Muslim Kitabul Aqdhiyah -bab perbedaan para mujtahid- 3/1344, no. 1720; An Nasa’i Kitabul Qadha’, 8/234.

Referensi: Shahih al Qashash (Kisah Shahih Dalam Al Qur’an dan Sunnah) Syaikh Sulaiman al Asyqor (Guru Besar Universitas Islam Yordania). Terjemahan Tim Pustaka ELBA. Ebook edition from Markaz Download Abu Salma.