Menuju Negara Maju

Ada beberapa parameter untuk mengukur tingkat kemajuan suatu negara (sok ilmiah mode ON). Tingkat pendidikan warga negaranya, stabilitas pemerintahan dan demokratisasi rakyat, besar pendapatan penduduk per tahun serta pemerataan distribusinya, derajat kesehatan penduduk serta kemudahan akses terhadap fasilitas kesehatan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, keteraturan tata kota dan wilayah, dan kelancaraan sistem transportasi. Ada yang kurang ya? Tambahin sendiri aja dech.. ^^ Nah, rupanya dengan parameter-parameter tersebut (selain dalam demokratisasi rakyat), kita harus jujur mengakui secara umum Malaysia saat ini relatif lebih maju dari kita. Memang bisa saja kita beralasan bahwa negara kita jauh lebih besar dan heterogen dibanding Malaysia, sehingga tidak mudah mengelolanya. Ini kok prolognya panjang banget.. Intinya apa neh? Hehe.. Sabar para pembaca. Ok lah kalo begitu, to the point saja ya, dalam tulisan ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman selama bertugas di sono (red: menjadi TKI musiman ^^) terutama seputar perjalanan perdana saya menuju Petronas Twin Tower.

Naik LRT rapidKL.

Setelah subuh Ahad 3 Januari 2010, dari condominums saya dan dua orang teman satu perusahaan, akang Dani dan Aa’ Ari, naik taksi menuju LRT stesyen (Light Rail Transit Station) di Kelana Jaya. Biaya perjalanan dari Casa Indah Damansara menuju LRT stesyen di Kelana Jaya adalah sekitar RM. 10. Dari Kelana Jaya stesyen ini perjalanan menuju KLCC akan dilanjutkan dengan LRT.

LRT merupakan contoh sarana transportasi massal moderen yang juga telah dikembangkan di negara-negara maju. LRT ini merupakan salah satu bagian dari transportasi massal cepat yang mereka sebut rapidKL. Implementasi LRT di Malaysia dilatarbelakangi oleh laju perkembangan industrialisasi dan urbanisasi dalam beberapa dekade terakhir. Pemisahan kawasan industrialisasi, kawasan perniagaan, dan kawasan pemerintahan dari kawasan hunian akhirnya menuntut satu sarana transportasi massal yang cepat (rapid mass transportation) terutama di peak periods ketika para penglaju (commuters) berangkat dan pulang kantor.

Para pembaca yang tinggal di Jakarta bisa merasakan sendiri, betapa jalanan penuh dengan kendaraan pribadi yang tumpleg-bleg sehingga lalu-lintas mendadak macet saat jam berangkat dan pulang kantor. Para penglaju yang tidak ingin terjebak macet dapat menggunakan layanan rapid mass transportation seperti busway TransJakarta. Walaupun terpaksa berdesak-desakan dengan penumpang lain karena kurangnya jumlah armada busway, keberadaan busway lumayan menghemat waktu perjalanan. Seperti itu juga, keberadaan LRT di Malaysia merupakan upaya menangani masalah transportasi saat peak periods tersebut

Omong-omong soal sarana transportasi di sono, mayoritas pengguna jalan di kota Damansara (dimana saya tinggal) menggunakan kereta pribadi. Bahkan mereka memiliki garasi di rumah mereka untuk kereta pribadi tersebut. Rumahnya segede gaban kali ya.. Hebat gak? Ah, biasa aja lagi. Soalnya apa yang di sono disebut kereta, orang sini menyebutnya mobil. Berbagai mobil merek lokal dan internasional melintas di jalan. Memang ada motor yang berlalu lalang tetapi jauh lebih sedikit. Udah gitu jadul lagi, kayak motor ibu saya di kampung sono. Kesan pertama saya, mobilnya canggih tapi sepeda motornya jadul. Berbeda dengan Jakarta, keberadaan angkutan umum di kota Damansara lebih sedikit prosentasenya dibandingkan kendaraan pribadi. Kalau di Jakarta, keluar dari kost akses kendaraan umum dengan mudah didapatkan lengkap dengan variasi pilihannya mau ojek, bajaj, atau taksi. Kalau mau infanteri beberapa ratus meter makin banyak lagi pilihannya, ada angkot, ada metromini, bus patas, dan ada pula busway. Kalau di sono susahnya minta ampun. Yang ada di depan condominums tempat saya tinggal hanya taksi dan bus saja. Itupun jarang. Udah gitu, taksinya mahal banget.

Kembali ke LRT, perjalanan dengan LRT lumayan nyaman, yang jelas lancar dan anti macet. Alasannya tidak mungkin perjalanan LRT distop oleh penyebrang jalan atau kendaraan lain yang memotong jalur rel. Bagaimana mau distop, orang jalur relnya dedicated dan posisinya di atas jalan raya. Keberadaan LRT benar-benar dapat digunakan untuk menunjukkan kepada dunia internasional capaian pembangunan negara ini. “Ini dia, kami telah berhasil menerapkan sistem transportasi canggih di negeri kami” (mungkin itu yang ada di kepala engineers mereka waktu merancang sistem ini). Bagaimana tidak canggih, semua serba otomatis mulai dari driverless system hingga ticket machine. Maksudnya apa? Baca aja terus deh…

LRT dari Kelana Jaya menuju KLCC yang akan saya tumpangi itu beroperasi dalam driverless system. Artinya gak ada masinisnya bro. Saat itu, saya duduk di ujung depan LRT, cari-cari dimana tuh masinisnya. Pengen ajak kenalan..(red: hehe gak ding) Eh, ga taunya.. memang gak ada (red: ndeso banget). Canggih kan? Bahkan LRT ini mereka klaim sebagai driverless light rail transit dengan rel terpanjang di dunia.

Sebelum dapat menikmati layanan perjalanan dengan LRT ini kita harus membeli tiket yang berlaku untuk satu kali perjalanan. Tiket Sehala (Single Journey Ticket) begitulah mereka menyebutnya. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendatangi ticket machine, baca tarif perjalanan. Biaya perjalanan LRT bergantung jarak yang ditempuh. Tabel harganya ada di ticket machine itu juga. Kalau biaya perjalanan dari Kelana Jaya Stesyen menuju KLCC adalah RM.2,4 masukkan saja koin di panel C sampai jumlahnya sesuai, nanti secara otomatis tiket akan keluar dari panel D seperti gambar di atas. Uang kertas ringgit juga dapat dikenali oleh mesin tiket otomatis ini. Namun jika mesin tidak berfungsi, langsung saja datangi kaunter dan bayar tunai untuk mendapatkan tiket perjalanan.

Setelah mendapatkan tiket, bawa tiket tersebut pada gate masuk, secara otomatis tiket akan ditarik, plang penghalang terbuka, masuk gate, tarik kembali tiketnya melalui interface panel lain yang akan mengeluarkan tiket tadi. Simpan tiketnya sampai nanti diperlukan di stesyen tujuan untuk keluar gate.Mirip busway TransJakarta koridor 1 gitu lah, bedanya tiket harus tetap disimpan sampai tiba di stesyen tujuan. Kalau kita memiliki “tiket isi ulang” kita tidak perlu mendatangi tiket otomatis itu, cukup dekatkan tiketnya pada papan magnetik, otomatis plang penghalang akan membuka dan nilai deposit tiketnya akan berkurang secara otomatis.

Kebanyakan jalur rel LRT jurusan Kelana Jaya – Gombak ada di atas jalan raya. Beberapa diantaranya ada di bawah tanah seperti Masjid Jamek, Dang Wangi, Kampung Baru, KLCC dan Ampang Park. Setiap stesyen dirancang terintegrasi dengan kawasan perniagaan seperti minimarket atau restoran lengkap dengan ATM-nya.

Dan jadilah saya menikmati perjalanan dari Kelana Jaya menuju KLCC lebih kurang selama 40 menit. Wush, rasanya seperti mimpi… Ya iyalah.. orang saya menikmati perjalanan sambil tidur beneran kok ^^. Ngantuk bo, kebanyakan stayback di kantor. Gimana lagi, namanya juga tuntutan profesi, gapapalah demi anak-isteri di rumah (hihi.. belum punya ding, sss..st.. jangan bilang siapa-siapa lo ^^). Kalo dipikir-pikir, LRT ini merupakan contoh sarana transportasi massal yang anti macet dan murah. Kapan ya Jakarta tuntas pembangunan monorail-nya? Kali aja bisa kayak LRT di sini.

Akhirnya, beberapa saat kemudian saya sampai KLCC tempat Petronas Twin Tower berada. Daftar kegiatan saya di situ adalah nunggu antrian naik tiket skybridge, makan siang, foto-foto jilid 1, nunggu dzuhur sambil tidur siang di masjid KLCC, sholat dzuhur, foto-foto jilid 2 (makin narsis aja ^^), dan terakhir belanja sepatu (maksudnya nganter akang Dani dan Aa’ Ari belanja, saya cuma liat-liat aja).

Oia, sholat dzuhur dan ashar di masjid ini sangat berkesan bagi saya. Masjid yang indah, nyaman, ber-AC. Sangat representatif untuk beribadah. Tapi sayang seribu sayang, dua pengantar saya kehilangan sepatu setelah dzuhur di sini. Yang satu baru dibeli sekitar sebulan yang lalu, satunya lagi baru dua jam yang lalu dibeli. Karena itu, kalau memakai sepatu mahal dan sholat di masjid ini, silakan titipkan sepatu anda pada security.  Akhirnya, untuk naik ke skybridge terpaksa mereka pinjam sandal jepit dari security, kemudian beli sepatu di KL Sentral, dan mengembalikan sandal jepit pada waktu sholat Ashar.

Sekian pengalaman perjalanan perdana menuju Petronas Twin Tower di KLCC. Moga bisa disambung di postingan selanjutnya.

Menara Duta, 05 Februari 2010