Wahai jiwaku..

Tidak tahukah kamu, siapapun dia yang bercita-cita meraih kemenangan, suka tidak suka dia harus bersiap menantang segala rintangan.  Mengharap jalan ini datar tanpa tanjakan adalah seperti mengharap purnama bersinar di akhir bulan. Sungguh hasil yang diraih sebanding dengan pengorbanan yang dicurahkan. Karena itu telah menjadi fitrah penciptaan, cita-cita yang tinggi menuntut totalitas perjuangan. Sama saja menjadi orang beriman maupun orang kafir, semuanya harus berpayah-payah dahulu sebelum meraih kemenangan.

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan”. [1]

Wahai jiwaku..

Kenapa kamu risau padahal Dia telah berjanji:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. [2]

“Dan ada lagi karunia yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat waktunya. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”.  [3]

Wahai jiwaku..

Saat rintangan terasa semakin berat, saat jalan terasa semakin panjang, saat kegagalan demi kegagalan datang menghadang, saat semangat terasa mulai berkurang, jangan pernah engkau mengurangi harapanmu pada Allah. Apalah lagi berputus asa darinya.

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. [4]

“Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat “. [5]

Wahai jiwaku..

Andaikan ditaqdirkan tidak ada lagi yang kamu miliki selain satu hal saja, maka jadikan satu hal itu adalah harapan.

“Jika kiamat telah mendatangi salah seorang di antara kalian dan di tangannya (masih) ada bibit kurma, maka hendaklah dia menanamnya.” [6].

Begitulah, saat tak ada lagi yang bisa dikerjakan, tanamlah bibit kurma itu bersama harapan.  Sama juga bila nyawa sudah hendak diambil, biarlah nyawa itu keluar bersama harapan akan besar rahmat-Nya dengan berbaik sangka kepada-Nya.

“Janganlah seseorang dari engkau semua itu meninggal dunia, melainkan ia harus memperbaguskan sangkaannya kepada Allah Azzawajalla.” [7]

Saat itu,  ketika semua terasa tiada bersisa, masih ada satu yang harus selalu kita miliki.. harapan!

Wahai jiwaku..

Pengharapan yang sesungguhnya adalah apa yang disertai dengan amal. Bila tidak, ia hanyalah angan-angan kosong belaka. Kalau kamu masih berharap menjadi pemenang tanpa berjuang, pulang sajalah. Habiskan pagimu dengan mimpi itu, tetapi sekali-kali jangan bermimpi lagi menjadi pemenang, karena kamu tidak lebih dari seorang pecundang.

#Orang yang mencari kemulyaan tanpa pengorbanan
#maka dia telah menyia-nyiakan amalnya dalam mencari sesuatu yang mustahil.

Wahai jiwaku..

Ketahuilah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan harapan orang yang berharap pada-Nya. Karena itu, berjuanglah, dan berharaplah selalu, pada-Nya.

Setiabudi, 04 Februari 2010

[1] an Nisa’ (4): 104

[2] al Insyirah(94): 5-6

[3] ash Shaff (61): 13

[4] Yusuf (12): 87

[5] al Hijr (15): 56

[6] HR. Ahmad

[7] H.R Muslim (Riyadhus Shalihin no 440)

[ilustrasi gambar dari http://www.sripoku.com/foto/berita/2009/12/4/bibit_pohon.jpg%5D