Bersafarlah niscaya kan kau dapati ganti orang yang kau tinggalkan,

bersungguh sungguhlah karena kenikmatan hidup ada setelah keletihan.

[al Imam asy-Syafi’i]

Perjalanan Tak Diduga

Saat hampir semua teman kantor telah mempersiapkan daftar acara liburan akhir tahun, saya sendiri tidak mempersiapkannya selain ingin mengisinya dengan membaca dan sedikit menulis. Namun pertanyaan direct leader hari  itu sepertinya telah merubah semuanya. “Apakah kamu mahu dihantar ke KL (red: Kuala Lumpur) untuk testing satu bulan full, tapi belum lagi tau untuk satu atau dua bulan?”, katanya. Tidak perlu waktu lama untuk berfikir panjang, saya pun mengiyakan saja. “OK bang, saya mahu”, saya jawab.

Finally, datang kesempatan untuk pusing-pusing kat KL dengan percuma (red: jalan-jalan di KL gratisan–Melayu terms-), walaupun harus stay back sampai malam saat workdays, dan tetap masuk saat holiday dan weekend (kecuali hari ahad).

Sampai juga di Malaysia.

Setelah merampungkan seluruh persiapan perjalanan, akhirnya sampai juga saya di LCCT KLIA (Low Cost Carrier Terminal Kuala Lumpur International Airport). Walaupun naik maskapai penerbangan yang murah, tak apalah, yang penting kan gratis. Dan walaupun ada sedikit masalah di imigrasi, it’s OK lah, karena akhirnya boleh juga masuk ke Malaysia dengan izin social visit selama maksimum 30 hari.

Keadaan di Selangor.

Rupanya di Malaysia saya diinapkan di satu condominums di bilangan kota Damansara negara bagian Selangor, tempat dimana teman-teman satu perusahaan saya yang bertugas di sini tinggal. Awalnya, saya menduga tidak akan ada banyak perbedaan antar Damansara dan Jakarta. Tetapi dugaan saya meleset. Malam pertama di Casa Indah, satu kawasan tinggal di Damansara. Kok tidak terdengar suara adzan di kawasan itu sih? Rasanya aneh, padahal biasanya saya dengan mudah mendengar lantangnya suara adzan di jakarta (red: karena speakernya langsung mengarah ke kamar kost ^_^).  Apa karena kamar yang menghadap ke arah perempatan sehingga bising dengan suara kendaraan? Ataukah jarak masjid terdekat terlalu jauh sehingga suaranya tidak cukup kuat terdengar? Entahlah.. Pada waktu jalan-jalan mencari makan malam pun pemandangannya membuat saya agak terkaget-kaget. Alamak, kagak salah nih? Astaghfirullah… Penampilan kaum hawa yang jalan-jalan di kawasan niaga di sini amat parah, lebih parah dari Jakarta (paling tidak di dekat kost). Kalau dilihat sih bukan muka Melayu. Barangkali benar juga kata temen yang telah lama di sini, mayoritas resident kawasan itu bukan orang Melayu. Karena itu nuansa Islaminya tidak sebanyak di kota dan negera bagian yang lain.

Jalan-jalan ke KLCC.

Selain kesibukan pekerjaan, akhirnya ada waktu juga untuk jalan-jalan. Destinasi jalan-jalan kali adalah Petronas Twin Towers di KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Beruntung saya dapat kesempatan naik ke skybridge di antara dua menara kembar itu. Wah, sebenarnya banyak yang ingin diceritakan dari perjalanan di KLCC ini, tapi sementara waktu biarlah gambar-gambar di bawah ini yang berbicara. Karena gambar bercerita lebih dari seribu kata (red: oiya, untuk menampilkan album, pastikan network anda tidak menutup akses ke PictureTrail.com ^^).

Semoga nanti ada waktu untuk share pengalaman jalan-jalan di sini dan berinteraksi bersama rekan-rekan Malaysia sekaligus kumpulan ibrah yang menyertainya.