Tentang Pendapat Al Hafidz Ibn Hajar

Presentasi perhitungan umur umat Islam ini mengutip pendapat Ibn Hajar untuk menguatkan argumennya. Ada baiknya kita mengenal lebih dekat al Hafidz Ibn Hajar, baru kemudian melanjutkan pembahasan dalil beserta argumennya yang diklaim berasal dari pendapat beliau berkaitan dengan sisa umur umat Islam. Ibn Hajar al ‘Asqalani merupakan ulama ahli hadist dari madzhab Syafi’i yang menulis kitab Fath al-Bari sebagai syarah (penjelasan) kitab shahih Bukhari dan disepakati sebagai kitab syarah yang paling detail yang pernah dibuat. Kualitas kitab Fath al-Baari telah diakui dan mu’tabar di kalangan ahlu sunnah. Sebagai gambaran, ketika penulis kitab Nailul Authar, Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Ali as-San’ani asy-Syaukani -wafat tahun 1255 H- diminta menulis kitab Syarah Shahih Bukhari, beliau malah mengutip sebuah hadits “La hijrata ba’dal fathi” sebagai bentuk ungkapan tidak adanya kitab syarah shahih Bukhari yang lebih baik dari Fathul Bari.

Koreksi 1. Tidak akuratnya menukil perkataan al Hafidz Ibn Hajar.

Dalam presentasi perhitungan umur umat Islam ini, banyak disebutkan perkataan yang dinisbatkan kepada Ibn Hajar al ‘Asqalani. Misalnya: “Umur umat Yahudi adalah umur umat Nasrani ditambah dengan umur umat Islam. Pernyataan yang seperti ini masih bisa dirunut, karena dalam kitab Fath al Baari beliau menyatakan:

لأنه يقتضي أن مدة اليهود نظير مدتي النصارى والمسلمين

Karena, hadits tersebut menerangkan, bahwa umur umat Yahudi adalah sama dengan umur umat Nasrani ditambah dengan umur umat Islam” [1]

Asal usul kesimpulan umur umat Yahudi, yang sama dengan dengan umur umat Nasrani ditambah umur Islam, dikonklusikan dari hadist tentang perumpamaan waktu kerja Yahudi, Nasrani, dan Islam. kaum Yahudi diumpamakan bekerja selama setengah hari sedangkan kaum Nasrani bersama kaum Muslimin bekerja setengah hari pula, lantas setelah itu selesailah masa mereka di dunia. Sebagaimana bunyihadist yang artinya:

“Pemisalan antara kaum Muslimin dan Kaum Yahudi serta kaum Nasrani adalah seperti laki-laki kaya yang mengupah suatu kaum untuk melakukan sebuah pekerjaan untuknya sampai malam. Akan tetapi kaum tersebut hanya bekerja sampai tengah hari. Dan mereka berkata kepada laki-laki tersebut, ‘Kami tidak memerlukan gaji yang kamu berikan.’ Kemudian laki-laki itu mengupah suatu kaum yang lain seraya berkata, ‘Sempurnakanlah pekerjaan ini sampai selesai hari ini juga, dan kamu akan mendapatkan gaji seperti yang aku syaratkan. Kemudian kaum tersebut hanya bekerja sampai waktu shalat Asar dan berkata, ‘Ambillah olehmu apa-apa yang kami kerjakan.’ Kemudian laki-laki tersebut mengupah suatu kaum yang lain,dan mereka pun bekerja sampai penuh hari tersebut, sehingga terbenam matahari. Dan mereka mendapatkan gaji atas dua kaum sebelum mereka.” [2]

Sampai sejauh ini masih tidak ada masalah. Karena memang benar statemen tersebut diambil dari pendapat Ibn Hajar al Asqalani. Tetapi tidak untuk pernyataan selanjutnya yang berbunyi, “Para ahli sejarah mengatakan bahwa Umur umat Yahudi yang dihitung dari diutusnya Nabi Musa alaihis salam hingga diutusnya Nabi Isa alaihis salam adalah 1500 tahun”. Pertanyaannya, darimana statement ini berasal? Benarkah dari Al Hafidz Ibn Hajar? Beliau sendiri mengatakan dalam fath al Baari:

وقد اتفق أهل النقل على أن مدة اليهود إلى بعثة النبي صلى الله عليه و سلم كانت أكثر من ألفي سنة ومدة النصارى من ذلك ستمائة وقيل أقل فتكون مدة المسلمين أكثر من ألف قطعا

Sesungguhnya para sejarawan telah bersepakat bahwa masa kaum Yahudi hingga diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah lebih dari 2000 tahun, adapun masa (umur) umat Nasrani dari masa itu adalah 600 tahun, dan dikatakan lebih sedikit. Sehingga umur umat Islam secara pasti lebih dari 1000 tahun. [3]

Nah, dari sini mulai kelihatan ketidakakurasiannya. Penyusun presentasi ini barangkali bisa beralasan bahwa itu bukan merupakan nukilan utuh, tetapi sudah diinduksi dari pernyataan Ibn Hajar. Jadi nilai 1500 tahun (masa Nabi Musa ‘alahi sallam hingga Nabi ‘Isa ‘alahi sallam) itu didapatkan dari masa Nabi Musa ‘alahi sallam hingga Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam (A) dikurangi  masa antara Nabi ‘Isa ‘alahi sallam hingga Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam (A2).

Ilustrasi timeline-nya dapat digambarkan sebagai berikut:

dengan:

W        : awal masa umat Yahudi (bi’tsah (diutusnya) Nabi Musa ‘alahi sallam)

X         : awal masa umat Nasrani (bi’tsah Nabi ‘Isa ‘alahi sallam)

Y         : awal masa umat Islam (bi’tsah Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam)

Z          : akhir masa umat Islam

A1 : masa umat Yahudi

A2 : masa umat Nasrani

A3 : masa umat Islam

Dari fath al Baari, kita akan mendapatkan nilai A yaitu lebih dari 2000 tahun. Sedangkan nilai A2, didapatkan dari hadist mauquf dari Salman al Farisi:

Masa-masa antara Isa dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah selama 600 tahun”. [4]

Sesuai pernyataan Ibn Hajar bahwa masa Nabi Musa ‘alahi sallam hingga Nabi Muhammad sallallahu ‘alahi wa sallam (A) adalah lebih dari 2000 tahun. Lebih dari 2000 tahun berarti bisa jadi 2100 tahun, 2500 tahun, atau 2800 tahun. Sehingga kalau ingin tetap konsisten, seharusnya masa Nabi Musa ‘alahi sallam hingga Nabi ‘Isa ‘alahi sallam bukan 1500 tahun, tetapi lebih dari 1400 tahun, artinya bisa 1410 tahun, 1500 tahun, dan seterusnya. Di sinilah terlihat tidak akurasinya presentasi ini dalam menukil pendapat Ibn Hajar al Asqalani.

Sesuai tafsir hadist di atas, umur umat Yahudi (A1) adalah umur umat Nasrani (A2) ditambah dengan umur umat Islam (A3). Apabila nilai A1 belum diketahui secara pasti –definite-, nilai A3 sudah tentu tidak dapat diketahui secara pasti pula.. Konsekuensi dari pembatasan nilai A1 ini adalah pembatasan sisa umur umat Islam (A3). Presentasi ini begitu bersemangat untuk membatasai sisa umur umat Islam yang katanya tinggal 49 tahun lagi (dihitung dari tahun 2006 M / 1427 H), padahal pembatasan nilai yang digunakannya tidak berdiri di atas perhitungan yang kokoh dan meyakinkan.

Koreksi 2. Riwayat hadist atas tambahan umur umat Islam serta studi dirayahnya.

Menurut presentasi perhitungan umur umat Islam, umur umat ini akan ditambah selama 500 tahun dengan argumen hadist yang diriwayatkan dari shahabat Sa’ad bin Abi Waqqash dan dikatakan pula Nashiruddin Al Albani yang dikatakan telah menshahihkan hadistnya yang redaksinya adalah sebagai berikut:

Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya saya berharap agar umatku tidak akan lemah di depan Tuhan mereka dengan mengundurkan (mengulurkan) mereka selama setengah hari”. Kemudian Sa’ad ditanyai orang: Berapakah lamanya setengah hari itu? Ia (Sa’ad) menjawab: “Lima ratus tahun”.

Tetapi yang sebenarnya syaikh Al Albani sendiri telah mendhoifkannya. Hadist ini memiliki dua jalan, yang satu dari Syuraih bin ‘Ubaid dari Sa’ad dan satunya lagi dari Bakr bin Abi Maryam dari Rasyid bin Sa’ad dari Sa’ad. Jalan pertama rawinya terpercaya tapi ada keterputusan sanad antara Sa’ad bin Abu Waqqash dan Syuraih bin ‘Ubaid karena keduanya belum pernah bertemu. Sedang jalan yang kedua terdapat rawi yang dhoif yaitu Ibn Abu Maryam.[5] Sekali lagi, hadist dengan redaksi ini adalah dhoif, demikian menurut syaikh Albani, tidak seperti yang dikatakan dalam presentasi.

Selain itu menurut Ibn Rajab dalam sebuah kitab yang bernama fath al Baari –namanya sama seperti kitab karangan Ibn Hajar- hadist dengan riwayat ini adalah munqathi’ (terputus) [6].

Syaikh Albani memang menshahihkan yang mirip, tetapi dengan lafadh sebagai berikut:

لن يُعجَز اللهُ هذه الأمّة من نصف يوم

Allah tidak akan pernah melemahkan umat ini dari setengah hari [7]

Hadist tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud (4349), Al Hakim (4/424), dan selainnya. Akan tetapi tidak serta merta kemudian hadist ini dapat digunakan sebagai dalil tentang tambahan umur umat Islam, mengingat tafsiran atas hadist ini tidak tunggal. Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad –Guru Besar Univ Islam Madinah- menjelaskan bahwa setengah hari berarti 500 tahun berdasar firman Allah:

“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu” [8]

Sebagian ulama berpendapat bahwa maksud dari hadist ini adalah Allah mengakhirkan (menunda) kiamat hingga 500 tahun, karena itu Abu Dawud mengeluarkan hadist ini dalam bab berdirinya hari kiamat, sehingga maknanya bahwa kiamat bisa jadi akan terjadi setelah 500 tahun. Tetapi sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa makna hadist ini berkaitan dengan kaum fakir yang tidak akan dihisab dan masuk surga sebelum orang kaya masuk surga 500 tahun lebih dahulu, dan itu maksud dari setengah hari yang Allah tidak akan melemahkan umat ini. Syaikh al ‘Abbad menutup penjelasannya dengan menyimpulkan bahwa maksud dari hadist ini adalah tertundanya orang-orang kaya di hari hisab, dan mereka tertinggal dari kaum fakir yang tidak dihisab atas hartanya dan mendahului orang-orang kaya dalam memasuki surga sejauh 500 tahun atau setengah hari.[9]

Adapun hadist yang berkaitan dengan kaum fakir akan mendahului orang-orang kaya dalam memasuki surga adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah: berkata Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan masuk surga orang-orang fakir dari kalangan orang beriman sebelum orang-orang kayanya dengan selisih setengah hari -500 tahun-”[10]

Kesimpulan

Singkatnya, berargumen dengan hadist ini sebagai landasan atas tambahan umur umat Islam adalah hujjah yang lemah. Apalagi dari situ kemudian disimpulkan sisa umur umat Islam.Walaupun pendapat ini mencoba meramunya dengan pendapat Ibn Hajar, namun berapa pastinya umur umat Islam tetap akan menjadi urusan ghaib, Allahu ‘alam, hanya Allah yang mengetahuinya.

Itu belum termasuk umur Nabi yang disebutkan dalam presentasi ini sebagai masa tambahan umur umat Islam seperti dalam pernyataan “Sedangkan tambahan yang dimaksud itu mungkin adalah umur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Islam adalah agama yang dibawa oleh beliau.” Hal ini jelas hanya dugaan dan tidak berdiri di atas hujjah yang kuat. Sehingga kesimpulan “49 tahun adalah sisa umur umat Islam dari hari ini” batal dengan sendirinya.

(bersambung, insyaAllah)

Kelana Jaya -Selangor-, 30 Desember 2009

Baca juga:

Tulisan bagian pertama

Tulisan bagian kedua

Catatan kaki:

[1] Fath al Baari: 4/449

[2] Shahih al Bukhari: 2151

[3] Fath al Baari: 4/449

[4] Shahih al Bukhari: 3732

[5] Lihat: ar Radu al Amin: 1/12

[6] Fath al Baari li Ibn Rajab: 3: 149

[7] Ash Shahihah: 4/1643

[8] Al Hajj(22): 47

[9] Lihat Syarh Sunan Abi Dawud li Abdul Muhsin ‘al Abbad: 25/201

[10] Sunan Ibn Majah: 4/1380 no hadist 4122, berkata Albani: hasan shahih; Shahih Ibn Hibban 2/451 no hadist 676, berkata Syu’aib al Arnauth: Sanadnya hasan; Ahmad (2/296) no hadist 7933 dan (2/451) no hadist 9822 berkata Syu’aib al Arnauth: Shahih dan sanadnya hasan.