hijrah

Seribu empat ratus tiga puluh satu tahun sudah, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan bersejarah itu. Bersama seorang shahabat terkasih, Abu Bakr ash Shidiq, hari itu beliau bersembunyi di gua Tsur. Kisah hijrah ini sendiri memiliki berbagai sisi i’tibar yang kadang terlewatkan. Tentang keutamaan shahabat Abu Bakr ash Shidiq radhiallahu ‘anhu, misalnya. Inilah dia, seorang shahabat yang kemuliaanya diakui langsung dengan wahyu langit.

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita. [1]

Di saat Abu Bakr ash Shidiq begitu ketakutan, khawatir  kalau-kalau orang-orang Qurays mengetahui persembunyian mereka di dalam gua itu. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Tuhan. Sementara itu, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menenangkannya:  “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita“. Lihat saja, Nabi juga berkata: “Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakr dengan dua orang, sementara Allah menjadi yang ketiganya“? Seolah Nabi hendak meyakinkan Abu Bakr agar jangan takut dan jangan pula bersedih, walaupun mereka hanya berdua saja, tetapi Allah akan selalu menolong. Bila Allah telah menolong mereka berdua, siapa lagi yang dapat melawan?

Bandingkan saja dengan perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada Bani Israil yang ketakutan di saat hampir-hampir terkejar oleh Fir’aun dan pasukannya di tepi Laut Merah.

Maka Firaun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. [2]

Kemuliaan Abu Bakr ash Shidiq akan terlihat dari redaksi ma’iyatullah (kebersamaan Allah) dalam perbandingan dua ayat tersebut. Sang Nabi menegaskan bahwa sesungguhnya Allah beserta “kita” -Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr-, sedangkan terhadap bani Israil, Nabinya mencukupkan diri dengan mengatakan sesungguhnya Allah besertaku, tanpa mengajak bani Israil sebagai obyek pembicaraan. Untuk Abu Bakr, digunakan kata ma’ana -beserta kita-, sedangkan untuk bani Israil cukup ma’i -beserta ku-.

Demikian gaya bahasa al Quran menggambarkan kemuliaan Abu Bakr ash Shidiq radhiallahu ‘anhu. Orang pertama yang beriman dari kalangan laki-laki merdeka, yang selalu membenarkan apa yang dibawa oleh Rasul, yang paling berjasa menyebarkan agama Islam dan khalifaturrasul yang pertama. Sejak zaman jahiliyyah beliau telah dikenal sebagai pencari kebenaran, yang mengharamkan khamr bagi dirinya, yang menjadi orang terbaik di tengah-tengah kabilahnya, dan orang yang paling faham dengan Islam. Beliau memahami dengan baik apa itu kebenaran, kemudian mengikuti petunjuk itu, bahkan membenarkannya ketika orang lain mendustakannya. Berbeda dengan bani Israil, yang mengetahui kebenaran tapi justru enggan mengikutinya.

Kamu sekalian mendapatkan manusia itu seperti barang tambang, sebaik baik mereka di masa jahiliyah adalah sebaik baik mereka dalam Islam, bila mereka benar-benar memahami agama” [3]

Siapa yang menjadi emas ketika zaman jahiliyyah, dan tetap menjadi emas pula di zaman Islam, bila mereka memahami agama. Maka sholawat dan salam Allah untuk Nabinya, keluarganya, beserta shahabatnya.

Setiabudi, 18 Desember 2009 (1 Muharram 1431 H)

(Memperingati tepat setahun perjalanan kereta api jogja-jakarta 1 Muharram 1430 H)

[1] at Taubah (9): 40

[2] asy Syu’araa(26): 60-62

[3] HR. Bukhari: 3305