santai-santai

Penat dan lelah, rasa yang sering menghampiri setelah pulang kerja seperti ini. Ingin rasanya meluruskan punggung ini, tidur sejenak mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk melanjutkan pekerjaan, persis seperti seperti siang tadi. Lamanya menunggu konfirmasi dari tim analis padahal deadline sudah terlampui makin membuat pikiran ini terbebani. Mana tim lain juga sudah menagih hasil kerja modul-modul lain lagi. Kalau sudah begini, kadang malah bingung mau berbuat apa. Jadi ngantuk dah. Fiuh, pengen santai-santai aja.

Sebelum tidur, ambil mushaf dulu yuk. Eh, jangan lupa wudhu dulu ya. Mengaji satu dua ayat al Quran dan mentadaburinya sudah seharusnya menjadi aktivitas yang tidak boleh terlewatkan, walaupun pekerjaan menumpuk.

Alhamdulillah, Allah masih memberi kekuatan dengan menggerakkan hati ini untuk mengambil mushaf Shofwatul Bayan ini. Alhamdulillah.

الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ

“Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu”.[1]

Satu dua ayat mulai dibaca, eh.. kok gak dapat soul-nya sih. Hm.. baca catatan pinggirnya dan asbabun nuzul deh.

Seorang bertanya kepada Rasulullah sallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Rasulullah, sesungguhnya tidur merupakan kenikmatan dari Allah di dunia ini. Apakah nanti di surga kita bisa tidur?” [2]

Hehe.. pas banget nih. Hadist ini berbicara tentang tidur. Hobi kuliah yang berlanjut ketika kerja. Tidur siang dan tidur kapan saja kalau pikiran lagi mentok. Benar-benar bisa mengusir penat… apalagi pas penat seperti ini.. eh tapi pekerjaan makin menumpuk sih. Hm.. Lanjut baca hadist…

Rasulullah menjawab: “Tidak ada! Karena tidur itu kawannya maut, sedang di surga tidak ada maut”. Ia bertanya lagi: “Bagaimana istirahat mereka (ahli surga) itu?” Pertanyaan ini menyinggung perasaan Rasulullah. Beliau bersabda: “Tidak ada kelelahan di surga, semua urusannya adalah santai” [2]

Ow.. jadi ayat itu turun sebagai penegasan terhadap jawaban Rasulullah to. Aha, dunia memang tempat berlelah-lelah untuk beramal, sedikitlah bersabar nanti ada masanya untuk juga bersantai-santai. Di sono bo, bukan di sini. Benarlah apa yang dikatakan Imam Ahmad rahimahullah, ketika suatu saat beliau ditanya: “Wahai Imam, kapankah manusia itu bisa beristirahat? Imam Ahmad dengan tersenyum menjawab, “Ketika kakinya menginjak Surga…!”

Nah akhirnya, dapat lagi semangatnya. Ngantuknya hilang sedikit. Ayo bro, saatnya bekerja lagi.. Bismillah, semangat, semangat..

(kriuk, sambil melahap biskuit coklat kesukaan ponakan. ^_^)

Setiabudi 14 Desember 2009

[1] QS: Faathir (35):35

[2] Diriwayatkan oleh al Baihaqi di dalam kita al-Ba’ts dan Ibn Abi Hatim dari Nafi’ bin al Harist dari Abdullah bin Abi Aufa