Jalan dakwah, jalan panjang yang berliku. Banyak yang bertahan, tetapi banyak pula yang berjatuhan di atasnya. Di antara mereka yang berguguran itu, terdapat sosok-sosok aktivis yang dulu dikenal penuh dengan bara semangat. Aktivitas harakah di sekolah, kampus, kampung, bahkan klub ilmiah pun dilakoninya. Dulu, dia begitu aktif di halaqah. Masa itu, dia pun terlibat jauh dalam pengembangan strategi dakwah. Banyak sudah yang dibinanya, banyak pula yang ditariknya dalam lingkaran dakwah. Tapi rupanya, jalan itu rasanya terlalu panjang untuk dilalui, sampai bara itu  hilang nyalanya. Entah kenapa, kini, sejak dia berpisah dengan teman seperjuangannya,  idealismenya pun mulai luntur.  Tak ada lagi semangat untuk berdakwah, bahkan tak ada lagi keinginan untuk berhalaqah.

Dulu memang dia adalah seorang aktivis dakwah kawakan. Prestasi dakwahnya gemilang secara kuantitatif. Menang pemilu di kampus, target rekruitmen yang terlampui, banyaknya kelompok yang dibina, bahkan jenjang kaderisasi yang melompat dengan cepatnya. Pagi, siang, sore, dan malam, semua serasa habis untuk dakwah. Manis, romantis, heroik, ah kata-kata apalagi yang mampu menggambarkan manisnya perjuangan dakwah. Tapi itu dulu. Saat masih sekolah, saat masih kuliah.

Waktu telah berputar, zaman pun telah berganti. Sekarang, saat dia telah lepas dari lingkar tarbiyah di kampusnya, entah kenapa dia begitu berat bergabung lagi dengan komunitas yang diapun pernah ikut membesarkannya. Memang dia masih fasih bercerita tentang masa lalunya bersama dakwah. Tapi, masa lalu yang indah bersama ikhwah, bukanlah sesuatu yang pantas direnungi dengan ujub, lalu dibicarakan dan dibanggakan, lantas mencukupkan diri dengan itu. Di mana semangatnya yang dulu? Di mana opini-opininya yang tajam itu?

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Dakwah tidak selesai di kampus kawan. Kembalilah pada tarbiyah, kembalilah pada asholahnya. Hadirkan kembali taman-taman surga itu, dan nikmati lagi naungan sayap malaikat.

 

Setiabudi, 11 Desember 2009

(Ya Allah, teguhkanlah kaki-kaki ini di jalan dakwahmu. Kuatkanlah azzam kami. Hadiahkanlah pada kami inayah dan istiqamah. Ampunilah dosa-dosa kami, selalu.)