Pengantar

Segala puji hanyalah milik Allah, Penguasa Hari Akhir. Allahu ghayatuna, Allah-lah tujuan dari semua ibadah kita. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada qudwah kita, Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wa Sallam.

Presentasi Perhitungan Umur Islam ini, sebagaimana termaktub dalam mukadimahnya, dibuat dengan tujuan untuk menyeru kepada manusia agar senantiasa mengingat Allah agar berbakti kepada-Nya dengan bersegera  mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-NYA. Disebutkan pula bahwa pengambilan dalil-dalilnya bersumber dari pendapat tiga ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu:

  1. Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dari Mazhab Syafi’i
  2. Jalaluddin As Suyuthi (Imam Suyuthi)
  3. Imam Ibnu Rajab al Hanbali

Namun sayang sekali, referensi yang digunakan sebagai dasar pendapat tiga ulama tersebut tidak dicantumkan. Tidak jelas apakah presentasi ini merujuk langsung pada tulisan asli ketiga ulama tadi (referensi primer), ataukah merujuk pada kitab lain yang mengutip pendapat ulama tersebut dalam catatan kaki (referensi sekunder).

Artikel ini ditulis bukan untuk menolak keyakinan akan dekatnya hari kiamat. Bukan.. bukan seperti itu. Bukankah Allah SWT telah berfirman:

“Telah dekat (datangnya) saat itu (hari kiamat) dan telah terbelah bulan” [1]

Hanya saja penentuan bahwa umur dunia atau umur umat Islam adalah sekian tahun tentu saja perlu kepada dalil yang jelas. Penentuan waktu seperti itu akan berkonsekuansi penentuan waktu tibanya hari kiamat. Sedangkan yang mengetahui kapan tibanya hari kiamat hanyalah Allah semata. Sebagaimana juga telah disebut dalam mukadimah presentasi ini, “Kita tahu bahwa urusan kiamat adalah hak mutlak milik ALLAH saja, bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak mengetahuinya, namun beliau mengisyaratkan tanda-tandanya. Dan adalah kita berusaha untuk memahaminya”. Karena itu penentuan / pembatasan umur umat manusia dalam bilangn tahun tertentu akan berlawanan dengan firman Allah:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[2]

Allahu a’lam, bila dilihat dari strukturnya, besar kemungkinan, presentasi ini menggunakan referensi kitab ‘Umru Ummatil Islam (Umur Umat Islam) karya Amin Muhammad Jamaluddin. Hal ini dibuktikan dengan kemiripan yang sangat dalam pengambilan riwayat dan cara mengambil istinbath (kesimpulan) dalil-dalilnya. Sayangnya kesalahan dalam riwayat dan istinbath dalam buku aslinya juga diikuti dalam presentasi ini.

Dalam masalah riwayat misalnya, ternyata apa yang diklaim sebagai hadits shahih oleh penulis buku itu bukanlah hadist shahih. Ada pula hadits hadits dhoif (lemah) yang digunakan sebagai sumber pengambilan dalil. Parahnya hadist itu diklaim telah dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, tetapi Syaikh sendiri tidak pernah menshahihkan hadist itu. Jelas yang seperti ini tidak bisa dijadikan dasar dalam urusan agama, apalagi dalam urusan aqidah. Pembatasa umur umat Islam dalam tahun tertentu berkonsekuensi pada diketahuinya waktu kiamat. Sedangkan waktu terjadinya kiamat termasuk masalah aqidah. Tentu saja kita hanya dapat menggunakan al Quran dan hadist shahih sebagai dasar rujukan.

Alhamdulillah, sebuah buku berjudul ar Radd al Amin ‘ala Kutub ‘Umri Umat al Islam wa ar Raddu as Siham wa al Qaul al Mubin secara komprehensif mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada pada buku Amin Muhammad Jamaluddin ini. Walhamdulillah, koreksi kesalahan tersebut dapat dipakai untuk memahami secara kritis Presentasi Umur Umat Islam ini.

Sekali lagi, saya tidak dalam upaya menentang keyakinan akan kedekatan hari kiamat. Namun kita harus tetap kritis terhadap presentasi umur umat Islam ini, dengan tetap menghargai niat dan usaha penyusunnya untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya hari kiamat. Dalam tulisan seri selanjutnya kita akan membahas riwayat hadist yang dibawakan dalam presentasi ini, serta kritik atas kesimpulan yang diambil dari riwayat-riwayat tersebut. Insya Allah satu persatu koreksi akan dipaparkan lebih lanjut. Wallahu A’lam bish showab.

[1] QS. al Qamar (54): 1

[2] QS. al A’raaf (7): 187