Sulthan al ’Ulama

-Raja Para Ulama-

A tribute to Syaikh al Mujahid, Izzuddin bin Abd Salam

 

 

Mukaddimah

sulthan ulama Inilah sebagian fragmen hidup seorang ulama mujahid. Ulama yang terkenal dengan keluasan ilmu dan keberaniannya dalam mengamalkan ilmunya. Seorang faqih dari madzhab asy Syafi’e, yang karena begitu faqihnya sampai beliau dianggap telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Seorang hakim pemberani, yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan terang-terang tanpa sedikitpun takut kepada penguasa. Semua itu dikerjakannya baik dengan tangan, lisan, maupun tulisan penanya yang tajam. Seorang yang digelari Sulthon al ‘Ulama, rajanya para ulama. Dialah al imam al mujahid ‘Abd Aziz bin Abd Salam yang lebih dikenal dengan al Imam ‘Izuddin bin Abd Salam.

Penentangan Beliau Terhadap Kemungkaran.

Ketika Imam Izuddin bin Abd Salam memegang posisi khotib di Jami’ al Umawy Damaskus pemerintahan kaum muslimin di wilayahnya dipegang oleh seorang yang bernama al Malik ash Sholeh Isma’il dari bani Ayyub. Masa itu adalah masa-masa akhir dari kekuasaan dinasti bani Ayyub, sebuah dinasti yang dirintis oleh seorang pahlawan mulia, mujahid yang namanya abadi di timur dan barat, Sulthan Sholahuddin al Ayyubi. Semula daulah yang didirikan oleh Saladin ini, demikian dunia barat menyebutnya, merupakan sebuah daulah yang kuat. Namun sayang sekali di masa akhirnya, para amir berlomba-lomba dalam meraih kekuasaan. Sebagian dari mereka membunuh sebagian yang lain. Hingga sebagian mereka sampai mengandalkan dukungan musuh kafir, hanya untuk memperkuat dukungan, politik dan militer, sehingga mereka bisa mengalahkan saudaranya untuk memperoleh tampuk kekuasaan. Saat itu al Malik ash Sholeh Isma’il mengadakan perjanjian dengan musuh -tentara kafir- serta menyerahkan beberapa benteng dan beberapa kota sebagai kompensasi atas dukungan politik dan militer dalam mengalahkan al Malik ash Sholih Ayyub di Mesir.

Melihat sebuah realita menghinakan –di mana seorang raja muslim bersekutu dengan raja kafir untuk menyerang raja muslim lainnya-, berdirilah sang imam di mimbarnya. Beliau berkhutbah dengan tema sentral pengingkaran atas apa yang telah dilakukan oleh Sholih Isma’il. Bahkan beliau menghentikan doa yang biasa dipanjatkan untuk sang raja. Kemudian beliau mengakhiri khutbahnya dengan doanya: Ya Allah jadikanlah untuk ummat ini satu urusan yang benar, yang didalamnya dimuliakan para kekasih-Mu, dan dihinakan musuh-Mu, diperintahkan di dalamnya kebaikan dan dilarang di dalamnya kemungkaran.

Mendengar aksi politis-demonstratif yang dilakukan oleh sang imam, marahlah sang raja bukan kepalang. Dikeluarkannya perintah untuk menjauhkan sang imam dari mimbar khutbah dan memenjarakan sang imam. Beberapa saat setelah itu, terjadilah gejolak di tengah rakyat sebagai aksi protes atas dipenjaranya sang imam. Sehingga pada akhirnya sang imam pun dikeluarkan dari penjara, bebas bersyarat. Sang imam boleh bebas, tetapi dicekal dari mimbar dan dilarang untuk berkhutbah di depan orang banyak. Khutbah politik sang imam dianggap berbahaya bagi eksistensi sang raja.

Karena pencekalan dan larangan khutbah ini, sang imam pun pergi dari Damaskus menuju baitul maqdis (al Quds) di Palestina dengan perasaan marah. Marah karena loyalitas raja justru diberikan kepada kaum kuffar, musuh Allah, musuh Rasulullah SAW, dan musuh kaum muslimin. Entah sebuah kebetulan atau bukan, di dekat baitul maqdis sang imam justru ditaqdirkan untuk bertemu sang raja yang sedang bersama sekutu-sekutunya dari kaum kafir. Mengetahui keberadaan sang imam di sekitarnya, sang raja pun mengutus salah seorang dari pengawalnya untuk menemui sang imam sambil berpesan kepadanya: “Pergilah engkau kepada Al Izz bin Abd Salam. Berlaku lembutlah engkau dengan perkataan yang sopan. Mintalah agar ia datang kepadaku untuk meminta maaf. Dan ia pun akan dikembalikan pada posisinya semula (di Jami’ al Umawy Damaskus).”

Maka pergilah pengawal tadi mendekati sang imam, dan kemudian berkata kepadanya: “Tidak ada yang menghalangimu dikembalikan ke posisimu dan pekerjaanmu yang semula, bahkan mendapat tambahan lebih dari posisimu sebelum ini, bila engkau bersedia datang kepada raja dan mencium tangan beliau. Itu saja”. Mendengar perkataan sang pengawal tertawalah sang imam dengan sebuah ketawa yang mengejek sambil berkata: “Aduh, kasihan sekali kamu. Demi Allah aku tidak rela jika raja Ash Sholih Isma’il mencium tanganku, apalagi jika aku yang mencium tangannya. Wahai kaum, aku ini di satu lembah, dan kalian di lembah yang lain (maksudnya kita ini berbeda jalan)”. “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatku dari musibah yang menimpa kalian” (doa ketika melihat orang lain kena musibah, dimaksudkan sebagai sindiran kepada raja dan para pengawalnya bahwa sikapnya yang mau berkompromi dengan musuh untuk menyerang sesama muslim merupakan musibah bagi dunia Islam).

Mendengar hal itu beranglah si pengawal raja sambil mengatakan: “Kalau begitu kami akan memenjarankanmu”. Sang imam pun menjawab: “Berbuatlah semau kalian”. Maka sang imam ditangkap dan dipenjarakan lagi dalam sebuah kemah. Di tahanan ini beliau justru membaca Al Qur’an, banyak beribadah dan berdzikir menyebut asma Allah Ta’ala.

Suatu ketika sang raja mengadakan pertemuan bersama beberapa pembesar musuh. Sengaja acara pertemuan itu dilaksanakan di dekat kemah tempat sang imam ditahan, supaya mereka dapat mendengar bacaan Qur’an sang Imam. Sang raja berkata kepada para pembesar pasukan musuh untuk mencari muka: “Apakah kalian dapat mendengar seorang yang sedang membaca (Qur’an)?” Mereka pun menjawah :“Ya, (kami dapat mendengarnya).” Maka sang raja pun berkata dengan bangganya: “Ini dia salah seorang ulama besar kaum muslimin yang kami penjarakan, karena dia menentang perjanjian kita, dan menentang penyerahan beberapa benteng, dan kesepakatan kita untuk menyerang Mesir.” Berkatalah raja-raja kafir: “Demi Allah seandainya cerdik pandai ini ada pada kami, niscaya kami cuci kakinya dan kami minum air bekas cucian kakinya.” Mendengar komentar sekutunya dari kalangan kafir tadi, sontak sang raja merasa hina dan rendah diri. Kejadian ini menjadi awal dari kehancuran kekuasaannya.

Setelah beberapa waktu berjalan, datanglah pasukan Mesir menyerang kekuatan sang raja dan sekutunya. Tentara mesir ini memenangkan pertempuran dan membebaskan sang Imam dari tahanan. Setelah dibebaskan, sang imam kemudian pergi ke Mesir dan disana disambut dengan hangat oleh raja as Sholeh Ayyub. Karena kapabilitas dan track record sang imam, atas permintaan penguasa Mesir itu beliau kemudian diangkat menjadi hakim kerajaan, sebuah posisi prestisius dengan tanggung jawab yang demikian besar.

Raja Sholeh Ayyub, penguasa mesir ini adalah seorang raja yang besar, yang memiliki kedudukan dan pengaruh yang kuat di mata menteri dan rakyatnya. Tidak seorangpun diantara mereka yang berani meminta rekomendasi untuk orang lain karena wibawa sang raja yang membuat gentar pembantu-pembantunya. Tidak ada seorangpun yang dapat berbicara ketika sang raja hadir, dan kalaupun berbicara hanya karena harus menjawab pertanyaan sang raja.”

Suatu saat sang raja keluar pada waktu hari raya ‘Ied dalam sebuah konvoi besar di Kairo bersama barisan polisi kerajaan. Berbagai sisi jalan penuh dengan polisi dengan pedang yang terhunus. Tampak sekali wibawa dan kebesaran sang raja di mana rakyatnya. Sementara itu para gubernur pun mencium bumi di antara kaki raja sebagai sebuah bentuk penghormatan padanya. Sebuah kebiasan buruk yang menselisihi ajaran Islam tetapi lazim terjadi pada masa itu. Dan di jalan itu berdiri sang Imam al ‘Izz dan tiba-tiba saja beliau berkata pada sang raja: “wahai Ayyub!”.

Demikian sang imam langsung memanggil nama asli sang raja, tanpa gelar kehormatan, tanpa embel-embel apapun, bahkan langsung menyebut nama aslinya. “Apa yang akan engkau jadikan hujjah di depan Allah besok jika Dia berkata padamu: “Bukankah Aku telah menyerahkan kerajaan Mesir padamu, mengapa kemudian engkau menghalalkan minuman keras?”, lanjut beliau. Sang raja pun bertanya: “Apakah itu terjadi di Mesir?” Dengan lantang sang imam menjawah: “Ya, di tempat ini dan itu, di sebuah bar yang dijual di dalamnya minuman keras dan hal-hal mungkar lain. Sementara itu engkau masih saja bolak-balik dalam kenikmatan kekuasaanmu.” Maka sang raja pun berkata: “Wahai tuanku, aku tidak pernah melakukan hal itu. Hal itu hanya terjadi di zaman pemerintahan ayahku.” Maka sang imam pun mendongakkan kepalanya seraya membaca potongan ayat Qur’an: “Kalau begitu engkau termasuk kelompok orang yang mengatakan Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama” -kelanjutan ayat ini adalah “dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka” yang dimaksudkan bahwa sang raja mengikuti jejak pendahulunya dalam kesesatan-. Sang raja pun menjawah: “Aku berlindung kepada Allah (-dari melakukan hal seperti itu-), aku akan mengeluarkan keputusan yang mebatalkan kebolehan berdirinya bar itu saat ini juga, serta melarang jual-beli minuman keras di Mesir”

Demikianlah cara beliau mengingatkan raja dengan terang-terangnya. Sengaja beliau menyebut langsung namanya, sebagai bentuk pengingatan atas sikap glamour dan suka bermegah di depan rakyatnya bersama para pengawalnya. Dalam satu aksi demontratif beliau ini dua tujuan dakwah tercapai sekaligus. Memperingatkan kemungkaran sang raja yang senang pamer kekuasaan di depan rakyatnya serta kemungkaran bebasnya peredaran minuman keras di negeri Mesir.

Di kesempatan aksi beliau yang lain, bersama murid-muridnya beliau langsung menghancurkan sebuah bangunan semacam diskotik yang di dalamnya dilakukan berbagai kemungkaran. Parahnya lagi diskontik itu dibangun di dekat masjid, siang malam para pengunjunganya menari dan menyanyi, sehingga ini menjadi satu bentuk penghinaan terhadap syi’ar Islam. Di belakang pembangunan diskotik itu ada seorang pejabat pemerintahan yang bertindak sebagai backing-nya. Pejabat itu adalah seorang menteri yang bernama Fakhuruddin.

Dengan sebilah kapak di tangannya, beliau mengajari murid-muridnya cara beramar ma’ruf nahi mungkar dengan tangan dalam makna yang sebenarnya. Dan itu bukanlah tidakan main hukum sendiri, mengingat posisi beliau memang ada hakim kerajaan. Itu berarti memang beliau memiliki otoritas. Mereka pun menghancurkan bangunan penuh maksiat itu hingga rata dengan tanah.

Perhatian Beliau Terhadap Ilmu dan Jihad.

Sebagai seorang faqih beliau memiliki berbagai karya tulis yang menggambarkan keluasan ilmu beliau baik dalam bidang hadist, tafsir, ushul fiqh, fatwa fiqh, dan sebagainya. Secara khusus beliau juga memiliki perhatian lebih dalam urusan jihad. Bukti perhatian beliau dalam masalah jihad ini terlihat dari kitab beliau yang berjudul “Ahkamul Jihad”, yang dibahas di sana segala rupa yang berkaitan dengan jihad. Tidak hanya cukup dengan menulis dan mengajar, bahkan beliau juga turun langsung ke medan jihad.

Suatu ketika dalam sebuah pertempuran melawan tentara Tatar, ketika rakyat Mesir sudah hampir kalah dan rasa takut telah menghampiri mereka. Dalam perang itu, beliau langsung menyemangati dan ikut berperang dengan penuh semangat dan keberanian sehingga datang pertolongan Allah yang memenangkan mujahidin Mesir.

Mimpi Basah Sang Imam, Awal Percepatan Dalam Menuntut Ilmu.

Banyak orang menduga bahwa luasnya pemahaman beliau terhadap ilmu agama ini dikarenakan beliau telah belajar ilmu agama sedari kecil. Tetapi dugaan ini salah. Bahkan pada awalnya beliau ini sama seperti yang lain, tidak mengetahui urusan agamanya secara khusus. Sebuah kisah unik dan menarik layak untuk diceritakan terjadi pada masa awal imam al “Izz belajar ilmu agama.

Alkisah, pada suatu malam yang sangat dingin, tidurlah Imam al ‘Izz muda di sebuah dapur pembakaran batu gamping di sudut masjid Jami’ al Umawy di Damaskus. Di tempat itu tinggal pula para mahasiswa lain yang menuntut ilmu syar’ie di Jami’ al Umawy. Tiba-tiba dalam tidurnya, sang imam mengalami ‘ihtilam’ -mimpi basah- sehingga beliau pun kemudian bangun dan pergi secepatnya ke sebuah pemandian. Tepatnya ke sebuah pemandian di pojok masjid dengan suasana malam yang teramat dingin. Begitu dinginnya suhu malam itu, sehingga air mandinya hampir-hampir membeku.

Setibanya di pemandian itu, sang imam segera melepas pakaian luarnya dan mandi dengan air yang sangat dingin tadi. Selesai mandi, sang imam merasa sangat kedinginan hingga saat itu beliau merasa seperti mau pingsan. Sang imam keluar dari pemandian dan kemudian pergi ke tempat semula -tempat beliau tadi tidur-.

Lagi-lagi, dalam tidurnya itu sang imam kembali ber-ihtilam, sehingga beliau pun bangun dan mengerjakan seperti yang beliau kerjakan sebelumnya. Beliau bergi ke pemandian di pojok masjid, mandi dengan air yang sangat dingin, dan kembali ke tempat tidurnya persis seperti yang beliau lakukan sebelumnya.

Entah sampai dua atau tiga kali sang imam tidur, mengalami ihtilam, kemudian mandi, dan kembali ke tempat tidurnya. Berulang kali beliau mengalami kejadian yang sama. Setiap kali mengalami ihtilam, beliau pergi ke pemandian, lalu menceburkan diri ke pemandian hingga pada kali yang kedua atau ketiga beliau pingsan karena begitu dinginnya air. Akhirnya beliau kembali ke tempatnya dan tidak tidur tetapi hanya duduk saja sampai kemudian terbit fajar subuh.

Entah kenapa dalam duduknya ini beliau diliputi kantuk ringan sehingga tertidur dalam tidur yang sangat singkat. Antara sadar dan tidak, beliau mendengar seseorang bertanya padanya: “Manakah yang engkau pilih ilmu atau amal?”. Beliau pun menjawah: “Aku memilih ilmu karena ilmu menuntun kepada amal.”

Begitu datang pagi beliau mengambil kitab At Tanbih fi Fiqh asy Syafi’ie, sebuah kitab dalam khazanah fiqh Syafi’e. Ajaibya, beliau duduk mempelajarinya hingga beliau hafal isinya. Sejak saat itu jadilah beliau penuntut ilmu yang rajin mempelajari ilmu syar’ie hingga menjadi seorang ‘alim yang disebut as Subky sebagai ‘orang paling berilmu pada zamannya dan banyak beribadah pada Allah’.

Penutup

Sosok imam Izzuddin bin Abd Salam merupakan figur ulama yang memahami ajaran Islam secara komprehensif. Beliau tidak memahami ajaran Islam secara parsial, bahkan beliau menggabungkan amal-amal utama dalam Islam. Sholat, mengajar di majelis ilmu, dan jihad di jalan Allah.

Beliau tidak berhenti mengajarkan ilmu pada murid-muridnya malah beliau sendiri langsung memberi contoh aplikatif bagaimana mengamalkan ilmunya. Hal itu terlihat dari cara beliau beramar ma’ruf nahi mungkar. Beliau bukanlah seorang ulama yang gila kekuasaan dan menghambakan diri pada penguasa. Beliau tidak mencari muka di depan penguasa, malah beliau tunjukkan harga diri di depan para penguasa dengan nasehat-nasehat terang-terangan yang jitu. Beliau juga tidak berhenti sekedar merasa nikmat dalam sholat dan ibadah-ibadah ritual lainnya tetapi beliau turut peduli dengan penderitaan ummat dengan memimpin jihad untuk membela kaum muslimin.

Walaupun pada awalnya beliau ini bukan seorang yang ‘alim, namun dengan segala keseriusan belajar dan konsistensi mengamalkan ilmunya, sang imam menjadi sosok ulama mujahid teladan yang namanya selalu harum sepanjang masa. Memang tidak ada kata terlambat dalam mempelajari ilmu agama.

Demikian seharusnya tarbiyah islamiyah dilakukan. Bukan sekedar pemberian materi, tetapi lebih daripada itu di sana ada pewarisan nilai. Seperti itulah yang dicontohkan sang imam. Aqidah, Ushul, ataupun Fiqh tidak berhenti di majelis-majelis ilmu saja, tidak pula selesai dalam kitab-kitab yang tebal. Beliau sebarkan dakwah dengan membimbing langsung masyarakat, turut memperbaiki kondisi pemerintahan, dan membebaskan tanah airnya dari penjajah kafir. Tarbiyah yang beliau berikan kepada murid dan ummatnya adalah tarbiyah sejati. Tarbiyah yang mencakup semua aspek pendukung kejayaan ummat.

Sumber:

Sulthanul ‘Ulama li DR. Salman bin Fahd al ‘Audah –al musyrif al ‘am ‘ala mauqi’ al islam al yaum-

Senin, 4 Mei 2009

 

Buat akhi pentafsir mimpi: Kira-kira klo mimpi kayak gini tafsirnya apa ya?😛

Buat yang nyariin ebook tafsir mimpi: Hari ini ada mimpi apa lagi?

Buat ikhwan arisan: saya izin pekan depan kagak ikut arisan ye.. mau pulang kampung. Izin ama pak RT ya..

Buat yang udah jadi agen binaan di kampung: keep istiqamah ya.. Selesain tuh skripsi. Sampaikan salam hormat saya buat yang bina adik-adik saya.

Buat yang tadi malam sms: Sudah lah ikhlaskan saja. Biar waktu yang mengobati.