Kisah Unik Seorang Mujahid Yang Ahli Ibadah Dari Kalangan Tab’ien

Shilah bin Asy-yam

sulthan-ulama

Mukaddimah

Inilah sebagian fragmen hidup seorang mujahid di masa tabi’in, kurun kehidupan terbaik setelah masa-masa shahabat Rasul SAW, potongan hidup seorang mukmin yang di dalam dirinya menyatu keutamaan ilmu, iman, ikhsan, wara’, dan jihad. Dialah Shilah bin asy-yam al ‘adawy.

Keutamaan seorang Shilah bin Asy-yam.

Dalam sebuah misi jihad di kota Kabul, sepasukan mujahidin sedang beristirahat malam setelah mereka melakukan perjalanan yang begitu melelahkan. Mereka pun menurunkan bekal dan menyatapnya, lalu menunaikan shalat isya’ secara berjamaah. Seusai sholat, mereka pergi menuju dekat kendaraan masing-masing untuk beristirahat, sekedar meluruskan tulang punggung, dan menghimpun tenaga guna melanjutkan perjalanan berikutnya keesokan harinya. Dalam kelompok mujahidin tersebut terdapat seorang ahli ibadah, sang mujahid agung Shilah bin Asy-yam. Beliaupun pergi menuju kendaraannya untuk beristirahat, seperti prajurit mujahidin lainnya.

Ketika teman-temannya telah terlelap dalam tidurnya, beliaupun bangkit dari istirahatnya dan diam-diam pergi meninggalkan perkemahan. Tanpa beliau ketahui ternyata ada sesosok mata yang telah mengawasi beliau sejak tadi. Sang mujahid ahli ibadah itu kemudian masuk ke dalam hutan, menuju tempat yang lebat pepohonannya dan dipenuhi rumput-rumput liar, seolah tempat itu belum pernah dilewati orang.

Dari kejauhan beliau masih diawasi orang yang sama. Seorang anggota mujahidin yang begitu penasaran dengan cerita orang tentang ibadah Shilah bin Asy-yam. Kata orang, Shilah begitu bersungguh-sungguh dalam ibadahnya hingga kakinya bengkak karenanya. Dan hal itu beliau lakukan baik dalam kondisi muqim dan safar, baik ketika beliau di rumahnya atau dalam suatu perjalanan, dalam keadaan luang maupun keadaan sibuk. Karena itulah si prajurit penasaran ini membuntuti langkah Shilah bin Asy-yam, untuk membuktikan sendiri perkataan orang-orang tentang beliau.

Setelah Shilah bin Asy-yam mendapati tempat yang nyaman untuk sholat, beliaupun segera menghadap kiblat, bertakbir mengagungkan asma Allah, dan menunaikan sholat malam. Si prajurit penasaran itu masih mengawasi beliau dari kejauhan. Dilihatnya Shilah yang sedang sholat, terlihat wajah yang berseri, tergambar dan terlihat pula jiwa dan anggota badan beliau yang tenang. Seakan-akan beliau menemukan seorang teman dalam khalwatnya itu.

Tanpa diduga-duga, sekonyong-konyong datanglah seekor singa dari arah timur hutan. Betapa kagetnya si prajurit penasaran tadi, sampai-sampai dia merasa perlu untuk memanjat pohon agar terlindung diri dari bahaya singa. Jantungnya berdetak cepat begitu cepatnya seakan akan copot dari tempatnya. Kaget, ngeri, dan rasa takut bercampur baur di hatinya. Tidak disangkanya ternyata singa tadi justru mendekati Shilah yang sedang melaksanakan sholat malam. Perlahan singa itu mendekati sang mujahid agung yang hatinya sedang terbang ke langit menghadap Rabbnya. Tinggal beberapa langkah lagi, dan singa itu cukup dekat untuk menerkam sang mujahid. Tetapi apakah yang kemudian terjadi? Justru singa tadi seolah memperhatikan gerak sholat sang mujahid. Sementara itu sang mujahid masih tenggelam dalam kekhusyu’annya.

Selesai sholat beliau memandang singa itu dengan tenang, dari kejauhan bibirnya tampak bergerak membaca sesuatu. Tiba-tiba saja singa itu pergi meninggalkan beliau dengan langkah yang juga sama tenangnya.

Begitulah, apa yang beliau lakukan tidak lepas dari pandangan si prajurit penasaran tadi. Sampai kemudian beliau kembali ke perkemahan, bergabung dengan mujahidin lainnya. Tanpa seorang pun yang mengetahui, selain si prajurit penasaran, apakah yang baru saja terjadi. Shilah bin Asy-yam kembali bergabung bersama pasukan dengan spirit perjuangan yang prima, dan mujahidin yang lain mengira beliau sedang bangun dari tidurnya sebagaimana mereka juga bangun dari tidurnya. Demikian pula si prajurit penasaran tadi bergabung dengan mujahidin dengan kondisi badan penat karena bergadang mengawasi gerak-gerik Shilah bin Asy-yam, dan kondisi hati yang masih campur aduk, heran, takut, sendu bergabung menjadi satu.

Shilah bin Asyam adalah seorang ‘abid yang tawadhu’ yang tergambar jelas dalam salah satu doanya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu agar menyelamatkan aku dari neraka…Apakah seorang hamba yang berbuat salah seperti aku berani untuk memohon surga kepadaMu?”. Walaupun begitu beliau adalah sesosok prajurit primadona yang menjadi rebutan para qiyadah mujahidin dalam misi jihad mereka karena keberanian dan doanya yang diaggap mustajab.

Keberanian Shilah bin Asy-yam Dalam Medan Perang.

Ja’far ibn Zaid meriwayatkan, ia menuturkan, “Kami keluar dalam suatu peperangan. Dan bersama kami ada Shilah ibn Asyam dan Hisyam ibn ‘Aamir…Ketika kami telah bertemu musuh, Shilah dan sahabatnya melesat dari barisan kaum muslimin dan keduanya menerobos kumpulan musuh, menusuk dengan tombak dan membabat dengan pedang, sehingga keduanya memberi pengaruh yang besar terhadap front depan pasukan. Maka sebagian panglima musuh berkata kepada sebagian yang lain, “Dua orang tentara muslimin telah menurunkan (menimpakan) kepada kita hal seperti ini, bagaimana jadinya apabila mereka seluruhnya memerangi kita? Tunduklah kalian kepada hukum muslimin dan tunduklah dengan taat kepada mereka.”

Akhir Hidup Shilah bin Asy-yam.

Beliau menghadap Rabbnya sebagai seorang yang syahid bersama putranya, yang juga syahid, di sebuah medan jihad pada masa pemerintahan bani Umayyah pada tahun 76H. Semoga Allah memberkati keduanya.

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS: Ali Imran 169-170.)

Malam Pertama Pernikahan Shilah bin Asy-yam.

Keberadaannya sebagai seorang ahli ibadah yang sarat dengan sifat wara’, zuhud, dan tawadhu’ tidak membuat Shilah meninggalkan sunnah Nabinya yang utama. Yaitu melengkapi separuh dien ini dengan menikah.

Ketika telah tiba taqdir baik itu, beliau dinikahkan dengan salah seorang sepupunya dalam sebuah pernikahan yang penuh barokah. Seorang wanita yang juga ahli ibadah, zuhud, wara’, bahkan pernah belajar ilmu ad dien pada Ummul Mu’minin ‘Aisyah Ra. Seorang yang dikenal luas dengan nama Mu’adzah al ‘adawiyah.

Di malam pertama pernikahannya itu, beliau pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bersama seorang pengantarnya, beliau mandi di sebuah pemandian air panas. Selesai mandi beliau dibawa masuk ke kamar pengantin. Semerbak harum bau wewangian memenuhi ruangan yang penuh barokah itu.

Dan Shilah pun memimpin sholat sunnah malam pertamanya. Sementara itu istrinya bermakmum di belakangnya. Dua pasang suami-istri ahli ibadah itu memulai malam pertama rumah tangga mereka dengan dua raka’at sholat sunnah yang khusyu’. Entahlah, kebiasaan mereka tenggelam dalam khusyu’ membuat hati mereka terbang lagi ke langit, bahkan hingga datang waktu fajar. Seluruh malam itu mereka isi dengan sholat sunnah. Sepertinya mereka lupa dengan apa yang harus dilakukan pada malam pertama.

Di pagi harinya, salah seorang pengantar nikahnya datang menemuinya serta berkomentar, “Wahai paman, anak perempuan pamanmu (sepupumu) telah disandingkan kepadamu (telah menjadi istrimu), lalu kamu berdiri shalat sepanjang malam dan kamu meninggalkannya.”
Beliau pun menjawab dengan sebuah jawaban jujur yang diplomatis:, “Wahai keponakanku …sesungguhnya kemarin kamu telah memasukkan aku ke sebuah rumah yang dengannya kamu telah mengingatkan aku kepada neraka…kemudian kamu memasukan aku ke tempat lain yang dengannya kamu mengingatkan aku kepada surga…Pikiranku terus saja memikirkan keduanya hingga pagi.” Demikian ingatannya tentang surga dan neraka telah membuat Shilah lupa terhadap apa yang harus dilakukan suami di malam pertamanya. Sang pengantar yang tidak lain adalah keponakannya itu heran kemudian bertanya: “Apa itu wahai paman?!”
Ia menjawab, “Sungguh kamu telah memasukkan aku ke kamar mandi, maka hawa panasnya telah mengingatkan aku akan panas neraka…kemudin kamu memasukkan aku ke rumah pengantin, sehingga bau harumnya mengingatkan aku kepada wangi surga…” Allahu akbar.

Penutup

Pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah mujahid Shilah bin Asy-yam ini adalah sikap teladan beliau dalam hal ihsan dalam beribadah kepada Allah. Sikap ihsan beliau ini terlihat dalam ibadah-ibadah beliau yang ikhlash. Tidak ada bedanya baik ketika beliau di depan seekor singa yang siap menerkamnya, maupun di depan gadis pengantin perempuannya di malam pertama mereka. Semuanya sama saja. Sama khusyu’nya. Selain itu di depan Allah beliau begitu tawadhu’, tetapi di depan musuh Allah keberanian beliau begitu tinggi. Beginilah jalan ulama salaful ummah yang sebenarnya. Mereka merangkum sifat ‘alim, ‘abid, dan mujahid dalam satu diri

Setiabudi, Ahad 3 Mei 2009

(disarikan dari sebuah tulisan di www.alsofwah.or.id diterbitkan Selasa, 31 Januari 2006)

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihattokoh&id=99


Buat kepala suku CA-GEN: Insya Allah tahun ini kan? Insya Allah ada ‘alamah-nya..

Buat bapak kepala cabang: Selamat mempersiapkan hati untuk mengangkat sauh bahtera rumah tangga antum.

Buat akhi ash sholih: Zawwajakallah ba’da qolil akhi.. (Rasanya udah lama kagak dengar doa ini ya..)