bunga_mawar_merah

Saudaraku, telah diwajibkan untuk kita agar selalu saling menasehati dalam kebaikan agar hidayah Allah selalu tumbuh bersemi di hati kita.

Saudaraku, Allah Ta’ala telah berfirman, “Innama al-mu’minuuna ikhwatun”. Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sungguh perwujudan dari kalimat Ilahi itu ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan. Silang pendapat dan beda pendirian karena perbedaan cara pemikiran rupanya telah menjadi kata kunci sebuah kesalahpahaman ketika kita berusaha untuk saling menasehati. Kurangnya komunikasi rupanya juga ikut membumbui kesalahpahaman itu.

Saudaraku, tanpa kusadari seiring waktu berjalan, selebar itulah jurang perbedaan telah memisahkan kita. Saudaraku, ternyata begitu banyak perbedaan yang menghalangi kita untuk saling bersilaturahmi merajut benang-benang kasih sayang Islami yang kaffah.

Saudaraku, tak ada solusi lain untuk tetap rekatnya ukhuwah kita selain saling memahami dengan komunikasi dan dialog yang terbuka agar tausiyah diantara kita mampu berjalan dengan semestinya.

Saudaraku, tengoklah kembali segala perbuatanku di masa lalu. Ketika hari itu aku berbuat khilaf terhadapmu. Maafkan aku saudaraku. Marilah kita kembali kepada persaudaraan sejati kita.

Saudaraku, apakah yang menghalangimu untuk memaafkanku. Apakah karena besarnya kesalahanku ataukah yang lain ? Aku benar-benar tidak tahu. Kekhilafanku terbit lantaran kerasnya hatiku, maka sekarang permohonanku timbul dari keinsyafku. Dengan kebesaran namaNya maafkan kekhilafanku.

Saudaraku. terkadang putus harapanku dari kemaafanmu. Entahlah…adakah pintunya ‘kan terbuka meski kuncinya pernah kupatahkan ? Namun bagaimanapun juga tak boleh aku berputus asa karena telah tertulis kalimatNya yang suci, “Dan (Dia lah) yang menyatu-padukan di antara hati mereka (yang beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat juga menyatu-padukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatu-padukan di antara (hati) mereka. Sesungguhnya Ia Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.” [al Anfal : 63]. Aku bukanlah makhluk yang berkuasa untuk memegang hatimu. Akhirnya siapa lagi yang dapat kuandalkan selain Allah.

Saudaraku, semoga Allah mengukir kata maaf untukku di hatimu. Semoga Allah merakit kembali ukhuwah kita yang hampir hilang dan meridhoi kita dalam persaudaraan haqiqi. Persaudaraan dengan ikatan hati suci yang terajut dalam satu cinta dan cita-cita mulia untuk menegakkan syariatNya yang mulia.. [ar Razy]

(dikutip dengan perubahan dari catatan seorang ikhwan untuk saudaranya, 2001)