allah-heart

Pokok ibadah ialah mencintai Allah. Ditegakkan dengan cinta, cinta itu keseluruhannya adalah untuk dan karena Allah. Tidak ada cinta yang lain yang serupa dengan cinta kepada Allah

Telah menjadi fitrah bagi diri manusia bahwa seluruh aktivitas hidupnya ditujukan untuk menggapai kebahagian yang mencakup ketenangan, kesenangan, dan kepuasan di dalam jiwa raganya. Bukanlah suatu keanehan jika manusia selalu berlomba-lomba dalam memburu segala yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan, tak terkecuali “cinta”.

Saudaraku, kebanyakan manusia telah tertipu dan masuk ke dalam perangkap “nafsu bermuka cinta”. Atas nama cinta, diri kita diliputi oleh keinginan untuk memenuhi segala permintaan nafsu yang muncul tak henti-hentinya. Entah keinginan untuk menikmati dunia bersama wanita yang tidak halal bagi kita atau keinginan untuk memiliki dan menumpuk-numpuk harta. Ketika kita cenderung pada yang demikian yang muncul adalah derita. Selama keinginan itu tak dipenuhi, deritanya akan berkepanjangan. Namun ketika dipenuhi hingga sampai pada titik kepuasan tertentu, muncullah tuntutan untuk memenuhi kepuasan yang kadarnya lebih tinggi. Dari sanalah akan lahir frustasi, amuk batin, rusuh hati, dan berbagai derita jiwa lainnya.

Saudaraku, hal itu harus dihentikan. Saatnya telah tiba untuk kita mengembalikan cinta pada tempat yang sebenarnya. Sulit untuk disangkal apabila kita memang mengaku beriman maka sudah seharusnya cinta tertinggi kita hanyalah untuk Allah dan RasulNya. Namun benarkah hati kita telah menuju kesana? Sanggupkah kita menjawah pertanyaan, siapakah paling banyak kau ingat di ruang memori hatimu?. Atau mungkin pertanyaan lain, siapakah yang paling banyak kau sebut namanya? Kepada siapakah engkau taat, takut, dan berharap? Apakah Allah dan RasulNya, ataukah selain keduanya?

Saudaraku, cinta kepadaNya berbanding lurus dengan tingkat keimanan kita. Ia juga berkorelasi positif terhadap tingkat penghambaan (ubudiyah) kita kepadaNya. Ialah dia anugerah dari ar Rahman sebagai sebuah mata air inspirasi yang tak akan pernah habis dalam kehidupan kita. Karena itu, tidak berlebihan kiranya telah berkata Imam Ibnul Qayyim dalam cinta, “Pokok ibadah ialah mencintai Allah. Ditegakkan dengan cinta, cinta itu keseluruhannya adalah untuk dan karena Allah. Tidak ada cinta yang lain yang serupa dengan cinta kepada Allah”

Saudaraku, cinta sejati tidaklah muncul dan hilang begitu saja. Cinta yang sebenarnya tak mampu tumbuh tanpa diawali dengan pengenalan. Tak pula bisa muncul jika dipaksakan. Cinta hanya akan muncul dan tumbuh subur ketika kita merawatnya dengan baik.

Saudaraku, marilah bersama berjuang meletakkan cinta kepadaNya di atas segalanya, dan menjadikan cinta selain kepadaNya hanya karenaNya. Akhirnya cinta sebagai fitrah insaniah kita akan bersinar indah dalam celupan warna Ilahiah. Dengan cintaNya yang tak terbatasi oleh relatifnya ruang dan waktu, niscaya akan tersingkap tabir kebahagiaan sejati, satu hal yang selalu kita berlomba-lomba menggapainya.

Dunia hanyalah persinggahan “(Sebenarnya) apa yang ada pada kamu akan habis dan hilang lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal”[an Nahl : 96]

Baca: Doa agar mendapatkan “cinta”.

Nb: Artikel ini disunting ulang dari sebuah tulisan yang sy buat pada bulan maret 2003,  ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMA. Semula artikel ini ditujukan untuk buletin kelas, namun buletin tersebut belum sempat diterbitkan hingga kemudian saya dan teman2 lain lulus.