tugu

Dari sini perjalanan bermula, stasiun Tugu

 

 

Jogja… Never ending da’wah!!!

Stasiun Tugu, 1 Muharram 1430 H

Jam 8.07 WIB

Para penumpang dimohon tidak terburu-buru, kami akan menunggu sampai semua penumpang masuk

Jogja memang selalu indah, bagaimanapun dan kapanpun. Yach begitulah yang kurasakan sampai saat ini. Kota ini begitu spesial, khas dengan budaya santai dan adem-ayem yang telah mengakar di seluruh sendi kehidupan bermasyarakat. Begitu santainya sampai-sampai pagi itu petugas stasiun mengumumkan kepada para calon penumpang kereta api “Fajar Utama” agar tidak tergesa-gesa dan berebut naik kereta. “Para penumpang dimohon tidak terburu-buru, kami akan menunggu sampai semua penumpang masuk “. Padahal menurut jadwal kereta sudah harus berangkat tujuh menit yang lalu. Sungguh kontras bila dibandingkan dengan kota lain. Andai ini terjadi di Jakarta mungkin petugas stasiun akan mengatakan: “Para penumpang yang berada di luar dimohon segera memasuki kereta, karena kereta sebentar lagi akan diberangkatkan. Sekali lagi para penumpang diharapkan segera memasuki kereta”. Kata orang bijak, lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya.

Adalah sangat membahagiakanku bila saja akhirnya Jogja adalah ladang dan lubukku, habitat tempatku mengembangkan diri dan ummat nantinya. Masih segar di ingatanku, curahan hati ibuku tentang cita-cita ayah yang belum tercapai. Dan aku adalah salah seorang anaknya yang diharapkan mewujudkannya. Dulu aku lahir, besar, belajar, dan mengenal dakwah di kota ini. Moga saja ketika aku kembali nanti, aku dapat bergabung lagi dengan kafilah da’wah di kota ini. Kembali bersama mereka meniti jalan rabbani di tanah kelahiran.