Undangan Tarbiyah Tsaqafiyah: Pola Komunikasi Suami Istri!

Pagi itu, saat berada di kampung halaman saya di Jogja, tiba-tiba ada SMS dari Pak Mustakim, ketua DPRa PKS Setiabudi. Isinya adalah undangan tatsqif untuk kader tarbiyah Setiabudi di masjid at Taufiq Guntur. Temanya psikologi komunikasi suami istri. Dalam batin saya berkata: “Hah.. gak salah nih?” Maklum, saya yang masih bujang thing-thing begini kok dapat undangan tingkat tinggi seperti itu.
Sehari sebelum hari H, ketika saya telah berada di Jakarta lagi, datang lagi satu SMS dari sang ketua DPRa. Isinya informasi khusus bagi kader yang akan hadir dalam acara tatsqif dan akan membawa buah hatinya. Mereka diharapkan untuk untuk membawa peralatan mewarnai dan menggambar karena panita kegiatan akan mengadakan acara pendamping khusus bagi anak-anak. Acara sederhana dengan kegiatan mewarnai dan menggambar bagi buah hati para ikhwah. Pikir saya, tentu orang tuanya dapat tetap bebas dan nyaman mengikuti acara, plus tidak perlu repot untuk menitipkan sang anak kepada orang lain. Di lain pihak, sang anak sendiri dapat menikmati dunianya tanpa perlu mendengar “materi berat khusus untuk dewasa” itu. Lha wong saya sendiri saja masih bertanya apakah saya sudah pantas mendengar materi itu, apalagi anak-anak yang masih imut-imut itu.
Bujangan boleh ikut.
Malam hari sebelum hari H, dalam forum pekanan, murabbi saya sempat mengumumkan kegiatan tatsqif untuk esok paginya. Kegiatan yang sama seperti diumumkan lewat struktur DPRa. Karena itu saya memutuskan untuk menghadiri undangan tatsqif pagi itu, ahad 31 Mei 2009. Pagi menjelang siang, saya pun dengan malu-malu (red: tapi mau) datang juga ke masjid at Taufiq di Guntur, persis di depan halte busway Halimun, Jakarta Selatan.






Komentar